ฝึกแต่งกระทู้ธรรม

เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง

เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

ฉบับทดลอง — คำอธิบายและสำนวนเชื่อมบางส่วนยังอยู่ระหว่างตรวจทาน อาจมีการปรับแก้
ภาษาของเรียงความ / Language : ไทย English Indonesia 中文 Deutsch Dansk हिन्दी 日本語 नेपाली
Contoh karangan ini hanya untuk latihan dan bukan kunci jawaban resmi. Tulislah dengan kata-kata Anda sendiri dan hafalkan kalimat Pāli beserta sumbernya dengan benar.
เรียงความภาษาอินโดนีเซีย ใช้ได้เฉพาะสุภาษิตที่มีคำอธิบายฉบับแปลแล้ว — ธรรมศึกษาชั้นตรี (ต่างประเทศ) มี ๔๓ บท · บาลีแสดงเป็นอักษรโรมัน
สุ่มบทตั้ง
ธรรมศึกษาชั้นตรี (ต่างประเทศ) · สนามหลวงกำหนดสุภาษิตให้ ๓ บท ให้ผู้สอบเลือกมาอ้างประกอบ ๑ บท · ต้องบอกชื่อคัมภีร์ที่มา · ชุดจำลองเลือกจากสุภาษิตของชั้นนี้ในหลักสูตรฉบับปรับปรุง ๒๕๕๗
ชุดสุภาษิตที่ให้เลือก (จำลอง ๓ บท)
ชั้นนี้เชื่อม ๑ บท · กดเลือกบทอื่นเพื่อเปลี่ยนแทนบทเดิม · เลือกครบแล้วระบบแต่งใหม่ทันที
ตัวอย่างนี้เรียบเรียงจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิตที่ผ่านการตรวจทาน ใช้ดูแนวการวางโครงเรื่องและการเชื่อมความ ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง ผู้สอบควรฝึกเขียนด้วยสำนวนของตนเอง
ธรรมศึกษาชั้นตรี (ต่างประเทศ) · บทเชื่อม ๑ บท · ภาษาอินโดนีเซีย ประมาณ ๕๙๙ คำ
สุ่มสำนวนเชื่อม
Bālā have nappasaṃsanti dānaṃ
Hanya orang bodoh yang tidak memuji dana
(Khuddaka Nikāya, Dhammapada 25/38)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata "orang dungu" dalam kata mutiara ini tidak hanya berarti orang yang nakal, tetapi berarti orang yang kebijaksanaannya rendah, tidak melihat nilai kebaikan, dan memandang dunia dengan mementingkan diri sendiri. Orang seperti ini tidak memuji dana, yaitu tidak memandang memberi sebagai hal yang baik dan luhur. Ia sering memandang memberi sebagai membuang barang dengan sia-sia, sebagai kebodohan si pemberi, atau kadang-kadang meremehkan orang yang berbuat jasa kebajikan dan berdana sebagai orang yang melakukannya untuk pamer.

ขยายความบทตั้งOrang dungu tidak memuji dana karena ia hanya melihat apa yang terlihat oleh mata, yaitu melihat bahwa hartanya berkurang, tetapi tidak melihat apa yang diperoleh dari memberi, seperti kepuasan batin, persahabatan, rasa hormat dan penghargaan, serta jasa kebajikan yang mengikuti dirinya. Dalam Dhammapada terdapat sabda Sang Buddha bahwa orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa, orang dungu tidak memuji dana, sedangkan orang bijaksana turut bergembira atas dana (anumodanā), dan justru karena turut bergembira itulah ia berbahagia di dunia berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan hanya dengan turut bergembira atas dana orang lain pun sudah merupakan jasa kebajikan, tetapi orang dungu justru menutup sendiri kesempatannya itu.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Buah pemberian tidak hanya bergantung pada jumlah atau harga barang yang diberikan, tetapi pada batin si pemberi. Sekalipun pemberiannya kecil, bila diberikan dengan batin yang berkeyakinan, buahnya tetap besar. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Vimānavatthu:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa hasil dari berdana tidak hanya bergantung pada jumlah atau harga barang yang diberikan, tetapi terutama bergantung pada pikiran si pemberi. Kata "pikiran yang berkeyakinan" berarti pikiran yang jernih oleh keyakinan (saddhā), percaya pada jasa kebajikan, dan bergembira dalam memberi. Adapun "persembahan" (dakkhiṇā) berarti pemberian yang diberikan dengan rasa hormat, atau diberikan untuk menghormati kebajikan. Ketika pikiran si pemberi telah berkeyakinan, dana itu sama sekali tidak dapat disebut dana yang sedikit.

อธิบายบทเชื่อม ๑Hal ini terjadi karena jasa kebajikan timbul di dalam pikiran. Pemberian yang disertai niat baik pada tiga saat, yaitu sebelum memberi merasa gembira, ketika memberi pikiran jernih, dan setelah memberi merasa puas tanpa menyesal, akan membuahkan hasil yang besar. Sebaliknya, barang yang banyak tetapi diberikan dengan terpaksa, diberikan karena ingin dipuji, atau setelah diberikan kemudian disesali, membuat pikiran menjadi keruh, dan hasil dana itu pun berkurang sesuai dengan kekeruhan pikiran itu. Karena itu, orang miskin yang memiliki keyakinan dapat berbuat jasa kebajikan tidak kalah dengan orang kaya, asalkan ia memberi dengan pikiran yang murni.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan sehari-hari, ketika melihat temannya membawa makanan untuk dibagikan kepada tunawisma, orang yang berpikiran dungu mungkin mengejek bahwa perbuatan itu tidak membantu apa-apa, atau menuduh bahwa perbuatan itu dilakukan untuk difoto dan diunggah ke media. Adapun orang yang memiliki kebijaksanaan akan turut bergembira, mengucapkan pujian, dan mungkin ikut membantu sesuai dengan kemampuannya. Ketika ada kegiatan jasa kebajikan di sekolah atau di lingkungan masyarakat, orang yang terus mencela jasa kebajikan orang lain padahal dirinya sendiri tidak pernah memberikan apa pun, itulah orang yang tidak mengetahui nilai dana sesuai dengan sabda Sang Buddha ini.

สรุปKesimpulannya: Kita hendaknya tidak menjadi orang dungu yang menghalangi atau meremehkan pemberian, tetapi hendaknya menjadi orang bijaksana yang bergembira dalam memberi, baik pemberian sendiri maupun pemberian orang lain, karena memberi adalah dasar dari kebaikan dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Bālā have nappasaṃsanti dānaṃ
Hanya orang bodoh yang tidak memuji dana

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

พุทธศาสนสุภาษิต แบบฝึกท่องจำ หน้าหลัก