เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง
เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง
อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.
อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata "hal yang terunggul" berarti sesuatu yang terbaik, yang paling utama di antara segala sesuatu dalam jenis yang sama. Kata mutiara ini mengajarkan bahwa orang yang memberikan hal yang terunggul akan memperoleh kembali hal yang terunggul lagi. Kata "lagi" menunjukkan bahwa hasil dari memberi tidak berakhir pada satu kali pemberian saja, tetapi akan kembali menjadi kebaikan bagi si pemberi berulang kali.
ขยายความบทตั้งDalam ajaran Buddha, hal yang terunggul yang patut dihormati dengan sepenuh hati adalah Tiratana, yaitu Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Orang yang mempersembahkan dana dengan keyakinan kepada Tiratana disebut telah memberi kepada yang terunggul. Dan dalam makna yang lain, memberikan hal yang terunggul juga berarti memilih untuk memberikan barang terbaik yang dimilikinya, bukan barang kelas dua atau barang sisa. Ketika pikiran si pemberi mengarah pada keunggulan seperti ini, hasil dari pemberian itu pun menjadi unggul pula, baik dalam bentuk kebahagiaan batin, nama baik, maupun kemajuan di kemudian hari.
ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Orang bijak memahami bahwa membahagiakan orang lain, baik dengan memberi, menolong, maupun tidak menyakiti, menjadi sebab dirinya sendiri memperoleh kebahagiaan pula. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya, Pañcakanipāta:
อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata "orang bijaksana" berarti orang yang memiliki kebijaksanaan, mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang tidak bermanfaat. Adapun "yang memberikan kebahagiaan" berarti orang yang membuat orang lain berbahagia, baik dengan memberikan barang, dengan menolong, maupun dengan tidak menyakiti. Kata mutiara ini mengajarkan bahwa orang yang memiliki kebijaksanaan yang memberikan kebahagiaan kepada orang lain akan memperoleh kebahagiaan sebagai balasannya, sesuai dengan prinsip bahwa sebab yang bagaimana dibuat, hasil yang demikianlah yang diperoleh.
อธิบายบทเชื่อม ๑Digunakannya kata "orang bijaksana yang memberikan" adalah karena memberikan kebahagiaan yang sejati memerlukan kebijaksanaan. Si pemberi harus mengetahui bahwa kebahagiaan yang diberikannya adalah kebahagiaan yang baik, bukan kebahagiaan yang membawa kepada kemerosotan. Misalnya, mengajak teman pergi berfoya-foya dan berkumpul tanpa tujuan, meskipun teman itu merasa senang, bukanlah memberikan kebahagiaan yang benar. Adapun memberikan kebahagiaan dengan kebijaksanaan adalah membuat orang lain merasa tenang, aman, dan berkembang. Bila memberi seperti ini, si pemberi memperoleh kebahagiaan sejak saat memberi, yaitu kepuasan batin, dan memperoleh kebahagiaan di kemudian hari, yaitu cinta, rasa hormat, dan bantuan dari orang lain.
ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan sehari-hari, pelajar yang bersungguh-sungguh mengerjakan tugas kelompok sebaik-baiknya tanpa memilih-milih pekerjaan tentu memperoleh kepercayaan dari teman-teman dan guru untuk mengerjakan tugas yang makin penting. Pegawai yang mencurahkan seluruh kemampuannya untuk pekerjaan tentu memperoleh kesempatan dan kemajuan dalam kariernya. Orang yang memberikan ketulusan terbaiknya kepada teman tentu memperoleh kembali persahabatan yang terbaik. Apa yang kita berikan dengan sebaik-baiknya akan kembali kepada kita dengan sebaik-baiknya pula.
สรุปKesimpulannya: Orang yang ingin memperoleh hal-hal yang terunggul dalam hidup hendaknya memulai dengan memberikan hal-hal yang terunggul terlebih dahulu, baik kepada agama, kepada orang yang telah berjasa, maupun kepada masyarakat. Memberi dengan pikiran yang mengarah pada keunggulan seperti ini adalah sebab bagi kemajuan yang tiada akhir. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:
ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.