ฝึกแต่งกระทู้ธรรม

เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง

เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

ฉบับทดลอง — คำอธิบายและสำนวนเชื่อมบางส่วนยังอยู่ระหว่างตรวจทาน อาจมีการปรับแก้
ภาษาของเรียงความ / Language : ไทย English Indonesia 中文 Deutsch Dansk हिन्दी 日本語 नेपाली
Contoh karangan ini hanya untuk latihan dan bukan kunci jawaban resmi. Tulislah dengan kata-kata Anda sendiri dan hafalkan kalimat Pāli beserta sumbernya dengan benar.
เรียงความภาษาอินโดนีเซีย ใช้ได้เฉพาะสุภาษิตที่มีคำอธิบายฉบับแปลแล้ว — ธรรมศึกษาชั้นตรี (ต่างประเทศ) มี ๔๓ บท · บาลีแสดงเป็นอักษรโรมัน
สุ่มบทตั้ง
ธรรมศึกษาชั้นตรี (ต่างประเทศ) · สนามหลวงกำหนดสุภาษิตให้ ๓ บท ให้ผู้สอบเลือกมาอ้างประกอบ ๑ บท · ต้องบอกชื่อคัมภีร์ที่มา · ชุดจำลองเลือกจากสุภาษิตของชั้นนี้ในหลักสูตรฉบับปรับปรุง ๒๕๕๗
ชุดสุภาษิตที่ให้เลือก (จำลอง ๓ บท)
ชั้นนี้เชื่อม ๑ บท · กดเลือกบทอื่นเพื่อเปลี่ยนแทนบทเดิม · เลือกครบแล้วระบบแต่งใหม่ทันที
ตัวอย่างนี้เรียบเรียงจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิตที่ผ่านการตรวจทาน ใช้ดูแนวการวางโครงเรื่องและการเชื่อมความ ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง ผู้สอบควรฝึกเขียนด้วยสำนวนของตนเอง
ธรรมศึกษาชั้นตรี (ต่างประเทศ) · บทเชื่อม ๑ บท · ภาษาอินโดนีเซีย ประมาณ ๕๖๙ คำ
สุ่มสำนวนเชื่อม
Dhammaṃ me bhaṇamānassaNa pāpamupalimpati
Selagi aku membabarkan Dhamma, kejahatan tidak menodaiku
(Khuddaka Nikāya, Jātaka, Sattakanipāta 27/224)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa ketika seseorang mengucapkan Dhamma, kejahatan tidak menodai. Kata "mengucapkan Dhamma" berarti mengucapkan hal yang benar, mengatakan kebenaran, berbicara sesuai dengan prinsip kebaikan, dan berbicara dengan niat yang murni. Adapun "kejahatan tidak menodai" berarti bahwa si pembicara tidak bersalah, meskipun ucapannya mungkin tidak menyenangkan hati pendengar.

ขยายความบทตั้งKadang-kadang mengatakan kebenaran atau menegur orang lain dapat membuat pendengar tidak senang, sehingga si pembicara ragu apakah hal itu merupakan perbuatan jahat atau tidak. Sabda Sang Buddha ini memberikan keyakinan bahwa jika yang diucapkan adalah Dhamma, yaitu benar, bermanfaat, dan diucapkan dengan niat baik pada waktu yang tepat, si pembicara tidak berbuat jahat, karena kejahatan timbul dari niat yang jahat, bukan dari rasa tidak senang si pendengar. Namun, perlu diwaspadai bahwa mengucapkan Dhamma tidak boleh berupa menggunakan kebenaran sebagai dalih untuk menyakiti orang lain atau berbicara demi memuaskan diri sendiri, karena ketika niatnya tidak murni, ucapan itu tidak lagi merupakan mengucapkan Dhamma.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Kejahatan atau karma buruk timbul dari perbuatan yang disertai kehendak. Bagi orang yang tidak berniat berbuat jahat melalui perbuatan, ucapan, maupun pikiran, tiada kejahatan baginya. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: "Kejahatan" berarti perbuatan salah, dan "orang yang tidak melakukannya" berarti orang yang tidak melakukan perbuatan salah itu, baik dengan melakukannya sendiri, menyuruh orang lain melakukannya, maupun dengan sengaja membantu orang lain berbuat salah. Kata mutiara ini mengajarkan bahwa seseorang tidak memiliki kejahatan hanya karena ia berada di dekat orang yang berbuat salah atau karena dituduh berbuat salah; kita harus melihat apa yang sebenarnya ia niatkan dan ia lakukan.

อธิบายบทเชื่อม ๑Dalam Dhammapada, Sang Buddha membandingkan orang yang tidak berbuat jahat dengan telapak tangan tanpa luka, yang tidak dapat ditembus racun. Perumpamaan ini membantu kita memahami bahwa bila seseorang tidak memiliki niat jahat dan tidak melakukan kesalahan itu, kejahatan tidak muncul dalam dirinya hanya karena ia berada di dekat, atau berhubungan dengan, pelaku kesalahan. Gambaran tentang racun adalah perbandingan untuk mengajarkan Dhamma; janganlah dijadikan alasan untuk mencoba menyentuh racun sungguhan.

อธิบายบทเชื่อม ๑Namun demikian, orang yang tidak berbuat salah masih mungkin menderita karena orang lain, misalnya disalahpahami atau difitnah. Tetapi dituduh tidak membuatnya menjadi pelaku kesalahan. Bila ia tidak melakukannya, hendaknya ia tetap sadar, menjelaskan kebenaran, dan meminta bantuan dari pihak yang berwenang, tanpa membalas dengan berbuat salah sendiri.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan nyata, guru yang menegur murid ketika murid berbuat salah tidak berbuat jahat, meskipun murid itu tidak senang pada saat itu, karena guru menegur dengan niat baik. Saksi yang memberikan keterangan sesuai kebenaran di pengadilan tidak berbuat jahat, meskipun hal itu membuat sebagian orang tidak senang, karena ia berbicara sesuai Dhamma. Teman yang berani memperingatkan temannya agar tidak terlibat dengan narkoba, meskipun temannya marah, dapat dikatakan telah menjalankan tugas sebagai sahabat yang baik (kalyāṇamitta).

สรุปKesimpulannya: Orang yang ingin berbicara tanpa berbuat jahat hendaknya berpegang pada prinsip mengucapkan Dhamma, yaitu mengatakan kebenaran, mengatakan hal yang bermanfaat, berbicara dengan cinta kasih, dan tahu memilih waktu yang tepat. Bila berbicara demikian, pikiran akan teguh dan tidak perlu takut akan apa pun. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Dhammaṃ me bhaṇamānassaNa pāpamupalimpati
Selagi aku membabarkan Dhamma, kejahatan tidak menodaiku

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

พุทธศาสนสุภาษิต แบบฝึกท่องจำ หน้าหลัก