ฝึกแต่งกระทู้ธรรม

เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง

เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

ฉบับทดลอง — คำอธิบายและสำนวนเชื่อมบางส่วนยังอยู่ระหว่างตรวจทาน อาจมีการปรับแก้
ภาษาของเรียงความ / Language : ไทย English Indonesia 中文 Deutsch Dansk हिन्दी 日本語 नेपाली
Contoh karangan ini hanya untuk latihan dan bukan kunci jawaban resmi. Tulislah dengan kata-kata Anda sendiri dan hafalkan kalimat Pāli beserta sumbernya dengan benar.
เรียงความภาษาอินโดนีเซีย ใช้ได้เฉพาะสุภาษิตที่มีคำอธิบายฉบับแปลแล้ว — ธรรมศึกษาชั้นโท (ต่างประเทศ) มี ๓๒ บท · บาลีแสดงเป็นอักษรโรมัน
สุ่มบทตั้ง
ธรรมศึกษาชั้นโท (ต่างประเทศ) · สนามหลวงกำหนดสุภาษิตให้ ๕ บท ให้ผู้สอบเลือกมาอ้างประกอบ ๒ บท · ต้องบอกชื่อคัมภีร์ที่มา · ชุดจำลองเลือกจากสุภาษิตของชั้นนี้ในหลักสูตรฉบับปรับปรุง ๒๕๕๗
ชุดสุภาษิตที่ให้เลือก (จำลอง ๕ บท)
ชั้นนี้เชื่อม ๒ บท · ลำดับที่กดเลือก = ลำดับในเรียงความ · ครบแล้วต้องเอาบทเดิมออกก่อนจึงเลือกบทอื่นได้ · เลือกครบแล้วระบบแต่งใหม่ทันที
ตัวอย่างนี้เรียบเรียงจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิตที่ผ่านการตรวจทาน ใช้ดูแนวการวางโครงเรื่องและการเชื่อมความ ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง ผู้สอบควรฝึกเขียนด้วยสำนวนของตนเอง
ธรรมศึกษาชั้นโท (ต่างประเทศ) · บทเชื่อม ๒ บท · ภาษาอินโดนีเซีย ประมาณ ๙๗๘ คำ
สุ่มสำนวนเชื่อม
Sace pubbekatahetuSukhadukkhaṃ nigacchati
Porāṇakaṃ kataṃ pāpaṃTameso muñcate iṇaṃ
Bila seseorang mengalami suka atau duka karena kebajikan atau kejahatan yang telah dilakukan sebelumnya, ia dengan demikian terbebas dari kejahatan lama itu, seperti terbebas dari utang
(Khuddaka Nikāya, Jātaka, Paññāsanipāta 28/25)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Pernyataan ini harus dibaca bersama kisah yang melingkupinya, karena kata "jika" di sini merupakan pengandaian untuk menguji pandangan tentang kamma lampau, bukan kesimpulan bahwa segala penderitaan adalah pelunasan utang kamma.

ขยายความบทตั้งDalam Mahābodhi Jātaka, Bodhisatta mengucapkan pernyataan ini untuk membantah orang yang percaya bahwa semua suka dan duka berasal dari kamma yang dilakukan di masa lampau. Beliau menunjukkan bahwa jika orang yang disakiti dianggap semata-mata sedang melunasi utang kamma lamanya, akan timbul pertanyaan: apakah orang yang menyakitinya sekarang tidak perlu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri? Pernyataan ini karena itu bertujuan menunjukkan kelemahan sikap berdalih dengan kamma lampau hingga mengabaikan perbuatan di masa kini.

ขยายความบทตั้งPelajaran pentingnya adalah bahwa kita tidak semestinya tergesa-gesa menyimpulkan bahwa penderitaan diri sendiri atau orang lain seluruhnya berasal dari kamma lampau, dan tidak semestinya menjadikan kamma sebagai dalih untuk menyakiti atau mengabaikan kesusahan siapa pun. Perbuatan di masa kini tetap penting: orang yang berbuat salah harus bertanggung jawab dan memperbaikinya, sedangkan orang yang mengalami kesusahan patut ditolong dengan cinta kasih.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Orang bodoh yang berkebijaksanaan rendah sering tidak menyadarinya ketika berbuat jahat, sebab ia tidak melihat bahayanya, tetapi ketika akibatnya muncul, ia tersiksa oleh perbuatannya sendiri seperti terbakar api. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa orang dungu berbuat jahat tanpa menyadari dengan jelas akibat buruk yang akan menyusul, tetapi ketika perbuatan jahat itu berbuah, ia sendiri harus menanggung penderitaan dari apa yang telah dilakukannya. Kata "orang dungu" di sini mengacu pada orang yang tidak memiliki kebijaksanaan untuk menimbang kejahatan dan kebajikan, manfaat dan bahaya, bukan orang yang kurang berpendidikan.

อธิบายบทเชื่อม ๑Kata "tidak menyadarinya" dalam bait ini dijelaskan oleh kitab komentar sebagai tidak mengetahui bagaimana perbuatan yang dilakukannya akan berbuah, bukan tidak tahu bahwa ia sedang berbuat jahat. Misalnya, sebagian orang tahu bahwa menipu atau menyakiti orang lain adalah salah, tetapi tetap melakukannya karena menginginkan keuntungan atau ingin membalas dendam, tanpa menyadari akibat buruk yang akan menyusul. Adapun kata "seakan-akan terbakar api" menunjukkan penderitaan yang membakar akibat perbuatan jahat, yang oleh kitab komentar juga dikaitkan dengan penderitaan di alam neraka, sehingga maknanya lebih luas daripada penyesalan ketika menyadari telah berbuat salah.

อธิบายบทเชื่อม ๑Pelajaran pentingnya adalah bahwa kita tidak semestinya hanya melihat kepuasan atau keuntungan yang diperoleh saat itu, tetapi hendaknya menggunakan perhatian penuh dan kebijaksanaan untuk menimbang sebelum bertindak: apakah hal ini benar, siapa yang akan dirugikan, dan akibat buruk apa yang mungkin timbul. Bahkan ketika sedang marah atau sangat menginginkan sesuatu, hendaknya berhenti dan berpikir, tidak membiarkan emosi menyeret kita berbuat salah. Belum terlihatnya akibat buruk secara langsung tidak menjadikan kejahatan sebagai sesuatu yang patut dilakukan.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๒Bila seseorang membangun kebahagiaannya di atas penderitaan orang lain, dengan menggunakan kekuatan atau kekerasan untuk menyakiti mereka, kebahagiaan yang diperolehnya tidak akan bertahan lama, dan ia tidak akan memperoleh kebahagiaan setelah meninggal. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๒Penjelasannya: Kata "semua makhluk" mencakup manusia maupun makhluk lainnya, "tongkat" di sini berarti batang kayu atau senjata yang digunakan untuk menyakiti, dan "setelah meninggal" berarti sesudah kematian. Kata mutiara ini memperingatkan bahwa mencari kebahagiaan bagi diri sendiri dengan menyakiti kehidupan lain adalah perbuatan jahat dan tidak membawa kebahagiaan di alam berikutnya.

อธิบายบทเชื่อม ๒Dalam kitab komentar Dhammapada dikisahkan bahwa Sang Buddha melihat sekelompok anak sedang memukuli seekor ular dengan tongkat. Ketika Beliau menanyakan alasan mereka berbuat demikian, anak-anak itu menjawab karena takut dipatuk ular. Beliau lalu mengajarkan bahwa orang yang menginginkan kebahagiaan bagi dirinya tidak semestinya menyakiti makhluk lain, kemudian mengucapkan syair ini. Kisah ini mengajak kita merenungkan bahwa sebagaimana kita mencintai hidup dan tidak ingin merasakan sakit, demikian pula kehidupan lain menginginkan kebahagiaan dan tidak ingin disakiti.

อธิบายบทเชื่อม ๒Orang yang menyakiti orang lain mungkin memperoleh kepuasan atau keuntungan sesaat, tetapi kepuasan itu timbul di atas penderitaan pihak lain, dan dapat pula menimbulkan ketakutan, pertikaian, dan permusuhan. Menyakiti hingga menjadi kebiasaan juga dapat membuat seseorang lebih mudah mengabaikan penderitaan orang lain. Kita karena itu hendaknya melatih cinta kasih dan menimbang apakah hal yang sedang kita lakukan demi kebahagiaan diri sendiri itu menimbulkan kesusahan bagi seseorang.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan sehari-hari, ketika menghadapi kekecewaan atau kehilangan, kita dapat berlatih menerima kenyataan agar dapat menenangkan pikiran, lalu menimbang apa yang masih dapat diperbaiki. Orang yang sakit hendaknya berobat, orang yang melakukan kesalahan dalam pekerjaan hendaknya mencari sebabnya dan memperbaikinya, dan orang yang disakiti hendaknya melindungi diri dan meminta pertolongan. Kesabaran karena itu hendaknya berjalan bersama usaha memecahkan masalah, bukan membiarkan kesusahan terus berlangsung karena mengira harus menjalani akibat kamma.

สรุปKesimpulannya: Mempelajari syair ini beserta konteksnya membantu mengingatkan kita untuk memahami kamma dengan cermat, tidak menyerahkan segala sesuatu kepada masa lampau hingga melalaikan kewajiban di masa kini. Ketika penderitaan timbul, yang patut dilakukan adalah menenangkan pikiran, tidak membalas dengan kejahatan, memperbaiki sebab-sebab yang dapat diperbaiki, dan saling menolong dengan cinta kasih, karena pilihan kita dalam berpikir, berucap, dan berbuat hari ini adalah hal yang patut kita perhatikan dan pertanggungjawabkan. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Sace pubbekatahetuSukhadukkhaṃ nigacchati
Porāṇakaṃ kataṃ pāpaṃTameso muñcate iṇaṃ
Bila seseorang mengalami suka atau duka karena kebajikan atau kejahatan yang telah dilakukan sebelumnya, ia dengan demikian terbebas dari kejahatan lama itu, seperti terbebas dari utang

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

พุทธศาสนสุภาษิต แบบฝึกท่องจำ หน้าหลัก