ฝึกแต่งกระทู้ธรรม

เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง

เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

ฉบับทดลอง — คำอธิบายและสำนวนเชื่อมบางส่วนยังอยู่ระหว่างตรวจทาน อาจมีการปรับแก้
ภาษาของเรียงความ / Language : ไทย English Indonesia 中文 Deutsch Dansk हिन्दी 日本語 नेपाली
Contoh karangan ini hanya untuk latihan dan bukan kunci jawaban resmi. Tulislah dengan kata-kata Anda sendiri dan hafalkan kalimat Pāli beserta sumbernya dengan benar.
เรียงความภาษาอินโดนีเซีย ใช้ได้เฉพาะสุภาษิตที่มีคำอธิบายฉบับแปลแล้ว — นักธรรมชั้นตรี มี ๔๓ บท · บาลีแสดงเป็นอักษรโรมัน
สุ่มบทตั้ง
นักธรรมชั้นตรี · สนามหลวงกำหนดให้อ้างสุภาษิตมาประกอบอย่างน้อย ๑ บท และเขียนไม่น้อยกว่า ๒ หน้ากระดาษ · ต้องบอกชื่อคัมภีร์ที่มา และไม่ซ้ำกับบทตั้ง · บทเชื่อมใช้เฉพาะสุภาษิตในพุทธศาสนสุภาษิต เล่ม ๑
สุภาษิตบทเชื่อมที่เข้ากัน
ชั้นนี้เชื่อม ๑ บท · กดเลือกบทอื่นเพื่อเปลี่ยนแทนบทเดิม · เลือกครบแล้วระบบแต่งใหม่ทันที
ตัวอย่างนี้เรียบเรียงจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิตที่ผ่านการตรวจทาน ใช้ดูแนวการวางโครงเรื่องและการเชื่อมความ ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง ผู้สอบควรฝึกเขียนด้วยสำนวนของตนเอง
นักธรรมชั้นตรี · บทเชื่อม ๑ บท · ภาษาอินโดนีเซีย ประมาณ ๖๓๐ คำ
สุ่มสำนวนเชื่อม
Natthi citte pasannamhiAppakā nāma dakkhiṇā
Bila batin telah berkeyakinan, tiada persembahan yang disebut kecil
(Khuddaka Nikāya, Vimānavatthu 26/82)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa hasil dari berdana tidak hanya bergantung pada jumlah atau harga barang yang diberikan, tetapi terutama bergantung pada pikiran si pemberi. Kata "pikiran yang berkeyakinan" berarti pikiran yang jernih oleh keyakinan (saddhā), percaya pada jasa kebajikan, dan bergembira dalam memberi. Adapun "persembahan" (dakkhiṇā) berarti pemberian yang diberikan dengan rasa hormat, atau diberikan untuk menghormati kebajikan. Ketika pikiran si pemberi telah berkeyakinan, dana itu sama sekali tidak dapat disebut dana yang sedikit.

ขยายความบทตั้งHal ini terjadi karena jasa kebajikan timbul di dalam pikiran. Pemberian yang disertai niat baik pada tiga saat, yaitu sebelum memberi merasa gembira, ketika memberi pikiran jernih, dan setelah memberi merasa puas tanpa menyesal, akan membuahkan hasil yang besar. Sebaliknya, barang yang banyak tetapi diberikan dengan terpaksa, diberikan karena ingin dipuji, atau setelah diberikan kemudian disesali, membuat pikiran menjadi keruh, dan hasil dana itu pun berkurang sesuai dengan kekeruhan pikiran itu. Karena itu, orang miskin yang memiliki keyakinan dapat berbuat jasa kebajikan tidak kalah dengan orang kaya, asalkan ia memberi dengan pikiran yang murni.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Orang yang dangkal pengertiannya dan memandang dunia dengan mementingkan diri sendiri tidak dapat melihat nilai pemberian. Karena itu ia tidak memuji dana, bahkan menganggap memberi sebagai membuang-buang barang saja. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata "orang dungu" dalam kata mutiara ini tidak hanya berarti orang yang nakal, tetapi berarti orang yang kebijaksanaannya rendah, tidak melihat nilai kebaikan, dan memandang dunia dengan mementingkan diri sendiri. Orang seperti ini tidak memuji dana, yaitu tidak memandang memberi sebagai hal yang baik dan luhur. Ia sering memandang memberi sebagai membuang barang dengan sia-sia, sebagai kebodohan si pemberi, atau kadang-kadang meremehkan orang yang berbuat jasa kebajikan dan berdana sebagai orang yang melakukannya untuk pamer.

อธิบายบทเชื่อม ๑Orang dungu tidak memuji dana karena ia hanya melihat apa yang terlihat oleh mata, yaitu melihat bahwa hartanya berkurang, tetapi tidak melihat apa yang diperoleh dari memberi, seperti kepuasan batin, persahabatan, rasa hormat dan penghargaan, serta jasa kebajikan yang mengikuti dirinya. Dalam Dhammapada terdapat sabda Sang Buddha bahwa orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa, orang dungu tidak memuji dana, sedangkan orang bijaksana turut bergembira atas dana (anumodanā), dan justru karena turut bergembira itulah ia berbahagia di dunia berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan hanya dengan turut bergembira atas dana orang lain pun sudah merupakan jasa kebajikan, tetapi orang dungu justru menutup sendiri kesempatannya itu.

ตัวอย่างในชีวิตSebagai contoh, seorang wanita tua yang tidak memiliki banyak uang, tetapi bangun pagi-pagi untuk menanak nasi dan mempersembahkan dana makanan kepada bhikkhu yang berpindapata dengan sungguh-sungguh setiap hari, lalu setelah selesai memberi dana ia merangkapkan tangan dengan penuh sukacita. Jasa kebajikannya tentu besar di dalam batinnya sendiri. Pelajar yang hanya memiliki sedikit uang jajan, tetapi dengan tulus rela memasukkan uang logam untuk membantu teman yang tertimpa bencana, juga telah melakukan dana yang berharga. Adapun orang yang menyumbangkan uang dalam jumlah besar hanya agar namanya tercantum pada papan pengumuman, bila pikirannya tidak benar-benar berkeyakinan dalam memberi, tentu memperoleh jasa kebajikan lebih sedikit daripada yang semestinya.

สรุปKesimpulannya: Orang yang ingin berbuat jasa kebajikan dengan berdana hendaknya tidak berkecil hati karena memiliki sedikit, dan hendaknya tidak lengah dengan mengira bahwa bila telah memberi banyak pasti selalu memperoleh jasa kebajikan yang banyak, tetapi hendaknya menjaga pikiran tetap jernih setiap kali memberi, baik sebelum memberi, ketika memberi, maupun setelah memberi. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Natthi citte pasannamhiAppakā nāma dakkhiṇā
Bila batin telah berkeyakinan, tiada persembahan yang disebut kecil

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

พุทธศาสนสุภาษิต แบบฝึกท่องจำ หน้าหลัก