ฝึกแต่งกระทู้ธรรม

เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง

เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

ฉบับทดลอง — คำอธิบายและสำนวนเชื่อมบางส่วนยังอยู่ระหว่างตรวจทาน อาจมีการปรับแก้
ภาษาของเรียงความ / Language : ไทย English Indonesia 中文 Deutsch Dansk हिन्दी 日本語 नेपाली
Contoh karangan ini hanya untuk latihan dan bukan kunci jawaban resmi. Tulislah dengan kata-kata Anda sendiri dan hafalkan kalimat Pāli beserta sumbernya dengan benar.
เรียงความภาษาอินโดนีเซีย ใช้ได้เฉพาะสุภาษิตที่มีคำอธิบายฉบับแปลแล้ว — นักธรรมชั้นตรี มี ๔๓ บท · บาลีแสดงเป็นอักษรโรมัน
สุ่มบทตั้ง
นักธรรมชั้นตรี · สนามหลวงกำหนดให้อ้างสุภาษิตมาประกอบอย่างน้อย ๑ บท และเขียนไม่น้อยกว่า ๒ หน้ากระดาษ · ต้องบอกชื่อคัมภีร์ที่มา และไม่ซ้ำกับบทตั้ง · บทเชื่อมใช้เฉพาะสุภาษิตในพุทธศาสนสุภาษิต เล่ม ๑
สุภาษิตบทเชื่อมที่เข้ากัน
ชั้นนี้เชื่อม ๑ บท · กดเลือกบทอื่นเพื่อเปลี่ยนแทนบทเดิม · เลือกครบแล้วระบบแต่งใหม่ทันที
ตัวอย่างนี้เรียบเรียงจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิตที่ผ่านการตรวจทาน ใช้ดูแนวการวางโครงเรื่องและการเชื่อมความ ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง ผู้สอบควรฝึกเขียนด้วยสำนวนของตนเอง
นักธรรมชั้นตรี · บทเชื่อม ๑ บท · ภาษาอินโดนีเซีย ประมาณ ๕๗๒ คำ
สุ่มสำนวนเชื่อม
Na ghāsahetupi kareyya pāpaṃ
Jangan berbuat jahat sekalipun demi makanan
(Khuddaka Nikāya, Jātaka, Navakanipāta 27/262)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa janganlah berbuat jahat demi makanan. Kata "demi makanan" berarti rela melakukan hal yang tidak benar hanya untuk memperoleh makanan atau demi mengisi perut sendiri. Dalam arti yang lebih luas, kata ini juga berarti rela berbuat jahat demi keuntungan sesaat, demi kenyamanan, atau demi bertahan hidup tanpa memedulikan kebenaran. Sabda Sang Buddha ini memperingatkan bahwa kebutuhan hidup bukanlah alasan untuk berbuat jahat.

ขยายความบทตั้งBanyak orang sering berdalih bahwa mereka terpaksa berbuat jahat karena kebutuhan, karena harus menghidupi keluarga, atau karena semua orang juga melakukannya. Tetapi orang yang bijaksana melihat bahwa kejahatan yang dilakukan demi mengisi perut hanya memberikan hasil sementara; makanan yang diperoleh hanya mengenyangkan untuk satu kali makan, tetapi kejahatan yang telah dilakukan melekat pada diri untuk waktu yang lama dan dapat mendatangkan kesusahan yang lebih besar di kemudian hari. Karena itu, orang yang memiliki sila dan Dhamma rela hidup susah, rela kelaparan, dan rela hidup berkekurangan daripada menukar kebaikannya dengan keuntungan kecil, karena ia tahu bahwa martabat dan kemurnian pikiran lebih berharga daripada makanan apa pun.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Kebahagiaan sejati tidak harus diperoleh dari memiliki berbagai hal, tetapi timbul dari tidak berbuat jahat. Orang yang menjauhi kejahatan dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran akan tenang hatinya dan tidak perlu takut akan apa pun. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa tidak berbuat jahat membawa kebahagiaan. Kata "tidak berbuat jahat" berarti menghindari segala kejahatan, baik melalui jasmani, ucapan, maupun pikiran. Adapun "kebahagiaan" di sini berarti tubuh yang nyaman dan pikiran yang tenteram, perasaan lega, tanpa ada sesuatu pun yang perlu ditakuti atau dicemaskan. Sabda Sang Buddha ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak harus diperoleh dari memiliki berbagai hal, tetapi dapat timbul dari tidak melakukan hal-hal yang tidak baik.

อธิบายบทเชื่อม ๑Kebahagiaan yang timbul dari tidak berbuat jahat adalah kebahagiaan yang mendalam dan kokoh. Orang yang tidak berbuat jahat tentu dapat tidur nyenyak, tidak perlu takut kesalahannya akan terungkap, tidak perlu terus curiga terhadap orang lain, dan tidak perlu berbohong untuk menutupi kesalahan, sehingga pikirannya ringan dan nyaman. Sebaliknya, orang yang berbuat jahat, meskipun memperoleh apa yang diinginkannya, pikirannya justru gelisah oleh rasa takut, rasa malu, dan penyesalan. Dalam Dhammapada, sabda Sang Buddha ini muncul bersama dengan pernyataan bahwa sila membawa kebahagiaan hingga usia tua, keyakinan yang teguh membawa kebahagiaan, dan memperoleh kebijaksanaan membawa kebahagiaan, yang menunjukkan bahwa tidak berbuat jahat adalah dasar dari segala kebahagiaan.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan nyata, pedagang yang mencampur barang dagangan dengan barang palsu atau mencurangi timbangan untuk memperoleh keuntungan lebih banyak dapat dikatakan berbuat jahat demi makanan. Pegawai negeri yang menerima suap agar hidupnya lebih nyaman daripada sebelumnya juga berbuat jahat demi mengisi perut. Adapun orang yang berpenghasilan kecil tetapi bekerja secara jujur, rela bekerja keras tetapi tidak mau berbuat salah, patut dihormati dan menjadi teladan yang baik bagi anak cucunya.

สรุปKesimpulannya: Orang yang ingin menjalani hidup dengan terhormat hendaknya berpegang teguh pada kebenaran, bahkan ketika hidup sedang susah, mencari nafkah dengan penghidupan benar (sammā-ājīva), dan tidak membiarkan rasa lapar atau keinginan untuk memperoleh sesuatu mendorongnya kepada kejahatan. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Na ghāsahetupi kareyya pāpaṃ
Jangan berbuat jahat sekalipun demi makanan

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

พุทธศาสนสุภาษิต แบบฝึกท่องจำ หน้าหลัก