เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง
เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง
อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.
อธิบายบทตั้งPenjelasannya: "Pengendalian diri" berarti berhati-hati dan mengendalikan perilaku sendiri agar tidak menyimpang atau menimbulkan kesulitan. "Dalam segala hal" di sini berarti pengendalian di semua pintu indria, meliputi pencerapan, perbuatan, ucapan, dan pikiran. Karena itu kata mutiara ini mengajarkan seseorang untuk berhati-hati secara menyeluruh, tidak membiarkan kecerobohan atau kekotoran batin mengarah pada menyakiti diri sendiri dan orang lain.
ขยายความบทตั้งDalam Bhikkhu Vagga dari Dhammapada, Sang Buddha menjelaskan nilai pengendalian mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, ucapan, dan pikiran, serta pengendalian di semua pintu, dan bersabda bahwa bhikkhu yang terkendali di semua pintu terbebas dari segala penderitaan. Bagian ini menunjukkan pentingnya pengendalian diri dalam praktik Dhamma untuk mengakhiri penderitaan. Ini bukan hanya berarti bersikap sopan, tetapi juga berlatih agar keadaan-keadaan tidak bajik tidak menguasai batin.
ขยายความบทตั้งPengendalian tubuh berarti menahan diri dari menyakiti, mencuri, dan berbuat asusila. Pengendalian ucapan berarti menahan diri dari berbohong, ucapan yang memecah belah, ucapan kasar, dan omong kosong. Pengendalian pikiran berarti menjaga agar keserakahan, kemarahan, dan kebodohan batin tidak menguasai dan mendorong seseorang berpikir, berbicara, atau bertindak merugikan. Selain itu, hendaknya melatih pengendalian indria, yaitu berhati-hati dalam mencerap melalui mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, sehingga ketika melihat, mendengar, atau mengalami berbagai objek, seseorang tetap penuh perhatian dan tidak membiarkan rasa suka atau tidak suka mengarah pada keadaan tidak bajik dan tindakan menyakiti.
ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Orang yang senantiasa waspada, mengendalikan perbuatan dan ucapan serta tidak melanggar hak orang lain, tidak menimbulkan perselisihan, sehingga permusuhan dan dendam tidak memiliki celah untuk terbentuk. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Dīgha Nikāya, Mahāvagga:
อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: "Mengendalikan diri" berarti menahan diri, berhati-hati dalam perbuatan dan kata-kata agar tidak melanggar atau menyakiti orang lain, serta menjaga batin agar kemarahan dan niat jahat tidak mengarah pada perbuatan salah. "Permusuhan" (vera) berarti rasa bermusuhan, perselisihan, dan memendam dendam dengan pikiran untuk membalas. Kata mutiara ini mengajarkan kita untuk mencegah sebab-sebab permusuhan dengan mengendalikan perilaku, tidak menimbulkan kesulitan bagi orang lain, dan tidak melanjutkan perselisihan dengan pembalasan.
อธิบายบทเชื่อม ๑Kata mutiara ini muncul bersama sabda tentang kebajikan yang bertambah bagi orang yang memberi, orang bijaksana yang meninggalkan kejahatan, dan kedamaian yang datang dari berakhirnya keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Dengan demikian syair itu menunjukkan nilai berbuat baik, pengendalian diri, dan pengembangan kebijaksanaan untuk meninggalkan kekotoran batin. Mengenai tidak menciptakan permusuhan, berhati-hati sebelum berpikir, berbicara, dan bertindak adalah hal yang penting, karena kata-kata atau perbuatan yang menyakiti dapat menimbulkan luka dan mengundang pembalasan sampai pertikaian meluas.
อธิบายบทเชื่อม ๑Pengendalian diri tidak berarti bahwa kita dapat mengendalikan semua pikiran atau perbuatan orang lain. Artinya adalah bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri, tidak menjadi pihak yang menciptakan sebab-sebab tindakan menyakiti, dan ketika menghadapi ketidaksenangan, tidak membiarkan kemarahan mengarah pada pembalasan. Bila kita telah berbuat salah, hendaknya kita mengakuinya, meminta maaf, dan memperbaikinya. Bila ada salah paham, hendaknya kita menjelaskan dengan alasan yang jelas. Bertindak dengan cara ini membantu menyelesaikan masalah dan mengurangi berlanjutnya perselisihan.
ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan sehari-hari, pengendalian diri tampak melalui perbuatan yang pantas, seperti tidak membuat kegaduhan yang mengganggu orang lain di tempat umum, dan menggunakan media sosial tanpa kata-kata kasar, tanpa fitnah, dan tanpa meneruskan pesan tanpa berpikir, yang membantu mengurangi sebab-sebab pertikaian dan kesulitan. Bagi seorang siswa, ketika melihat temannya berhasil, bila rasa iri muncul, hendaknya ia penuh perhatian dan menjaga batinnya, tidak mengatakan atau melakukan apa pun yang menyakiti temannya, dan sebaliknya berusaha mengembangkan kemampuannya sendiri. Pengendalian diri seperti ini melatih kita memilih bertindak dengan bertanggung jawab, bukan mengikuti emosi tanpa berpikir.
สรุปKesimpulannya: Maka mereka yang menginginkan kedamaian dalam hidup hendaknya terus melatih pengendalian diri, dalam pencerapan, perbuatan, ucapan, dan pikiran, serta mempraktikkannya di setiap tempat dan setiap kesempatan. Pengendalian diri bagaikan pagar yang mencegah kita tanpa sengaja tersesat ke dalam kejahatan, dan merupakan landasan yang menopang perkembangan batin dan kebijaksanaan. Dengan latihan yang berkelanjutan, ia membantu kita hidup dengan cermat dan mengurangi tindakan menyakiti. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:
ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.