ฝึกแต่งกระทู้ธรรม

เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง

เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

ฉบับทดลอง — คำอธิบายและสำนวนเชื่อมบางส่วนยังอยู่ระหว่างตรวจทาน อาจมีการปรับแก้
ภาษาของเรียงความ / Language : ไทย English Indonesia 中文 Deutsch Dansk हिन्दी 日本語 नेपाली
Contoh karangan ini hanya untuk latihan dan bukan kunci jawaban resmi. Tulislah dengan kata-kata Anda sendiri dan hafalkan kalimat Pāli beserta sumbernya dengan benar.
เรียงความภาษาอินโดนีเซีย ใช้ได้เฉพาะสุภาษิตที่มีคำอธิบายฉบับแปลแล้ว — นักธรรมชั้นโท มี ๒๙ บท · บาลีแสดงเป็นอักษรโรมัน
สุ่มบทตั้ง
นักธรรมชั้นโท · สนามหลวงกำหนดให้อ้างสุภาษิตมาประกอบอย่างน้อย ๒ บท และเขียนไม่น้อยกว่า ๓ หน้ากระดาษ · ต้องบอกชื่อคัมภีร์ที่มา และไม่ซ้ำกับบทตั้ง · บทเชื่อมใช้เฉพาะสุภาษิตในพุทธศาสนสุภาษิต เล่ม ๒
สุภาษิตบทเชื่อมที่เข้ากัน
ชั้นนี้เชื่อม ๒ บท · ลำดับที่กดเลือก = ลำดับในเรียงความ · ครบแล้วต้องเอาบทเดิมออกก่อนจึงเลือกบทอื่นได้ · เลือกครบแล้วระบบแต่งใหม่ทันที
ตัวอย่างนี้เรียบเรียงจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิตที่ผ่านการตรวจทาน ใช้ดูแนวการวางโครงเรื่องและการเชื่อมความ ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง ผู้สอบควรฝึกเขียนด้วยสำนวนของตนเอง
นักธรรมชั้นโท · บทเชื่อม ๒ บท · ภาษาอินโดนีเซีย ประมาณ ๑,๐๕๐ คำ
สุ่มสำนวนเชื่อม
Atha pāpāni kammāniKaraṃ bālo na bujjhati
Sehi kammehi dummedhoAggidaḍḍhova tappati
Ketika orang bodoh yang berkebijaksanaan rendah berbuat jahat, ia tidak menyadarinya; ia tersiksa oleh perbuatannya sendiri seperti terbakar api
(Khuddaka Nikāya, Dhammapada 25/33)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa orang dungu berbuat jahat tanpa menyadari dengan jelas akibat buruk yang akan menyusul, tetapi ketika perbuatan jahat itu berbuah, ia sendiri harus menanggung penderitaan dari apa yang telah dilakukannya. Kata "orang dungu" di sini mengacu pada orang yang tidak memiliki kebijaksanaan untuk menimbang kejahatan dan kebajikan, manfaat dan bahaya, bukan orang yang kurang berpendidikan.

ขยายความบทตั้งKata "tidak menyadarinya" dalam bait ini dijelaskan oleh kitab komentar sebagai tidak mengetahui bagaimana perbuatan yang dilakukannya akan berbuah, bukan tidak tahu bahwa ia sedang berbuat jahat. Misalnya, sebagian orang tahu bahwa menipu atau menyakiti orang lain adalah salah, tetapi tetap melakukannya karena menginginkan keuntungan atau ingin membalas dendam, tanpa menyadari akibat buruk yang akan menyusul. Adapun kata "seakan-akan terbakar api" menunjukkan penderitaan yang membakar akibat perbuatan jahat, yang oleh kitab komentar juga dikaitkan dengan penderitaan di alam neraka, sehingga maknanya lebih luas daripada penyesalan ketika menyadari telah berbuat salah.

ขยายความบทตั้งPelajaran pentingnya adalah bahwa kita tidak semestinya hanya melihat kepuasan atau keuntungan yang diperoleh saat itu, tetapi hendaknya menggunakan perhatian penuh dan kebijaksanaan untuk menimbang sebelum bertindak: apakah hal ini benar, siapa yang akan dirugikan, dan akibat buruk apa yang mungkin timbul. Bahkan ketika sedang marah atau sangat menginginkan sesuatu, hendaknya berhenti dan berpikir, tidak membiarkan emosi menyeret kita berbuat salah. Belum terlihatnya akibat buruk secara langsung tidak menjadikan kejahatan sebagai sesuatu yang patut dilakukan.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Orang yang suka menunda-nunda, membiarkan apa yang seharusnya dilakukan lebih dulu untuk dikerjakan belakangan, akan menyesal ketika waktunya sudah mendesak, sebab pekerjaan yang dikerjakan dengan terburu-buru jarang terselesaikan dengan baik. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Jātaka, Ekanipāta:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan kita untuk tahu menyusun urutan pekerjaan dan mulai mengerjakannya pada waktu yang tepat, tidak menunda-nunda, karena bila pekerjaan penting dibiarkan sampai waktunya mendesak, kita mungkin harus mengerjakannya dengan tergesa-gesa hingga berbuat kesalahan dan mengalami kesulitan sesudahnya.

อธิบายบทเชื่อม ๑Dalam kitab komentar Varuṇa Jātaka dikisahkan bahwa sekelompok māṇava atau pemuda pergi mencari kayu bakar di hutan. Seorang pemuda melihat sebatang pohon varuṇa dan mengira itu kayu kering, lalu berpikir untuk berbaring beristirahat dahulu, baru kemudian mematahkan kayu bakar. Ketika dibangunkan oleh temannya, ia tergesa-gesa memanjat dan mematahkan dahan, sampai dahan itu memantul mengenai matanya hingga terluka. Ia membawa pulang kayu bakar yang masih basah dan meletakkannya di atas kayu bakar teman-temannya. Keesokan paginya, orang yang memasak nasi mengambil kayu basah itu untuk dipakai, tetapi tidak berhasil menyalakan api hingga hari siang, sehingga rombongan tidak dapat berangkat sesuai jadwal. Kisah ini menunjukkan bahwa menunda lalu tergesa-gesa mengerjakannya belakangan dapat menimbulkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain.

อธิบายบทเชื่อม ๑Setiap pekerjaan memiliki urutan dan waktu yang tepat. Sebagian pekerjaan harus diselesaikan lebih dahulu sebelum pekerjaan lain dapat dimulai. Mempersiapkan diri lebih awal memberi waktu untuk berpikir, memeriksa, dan memperbaiki kesalahan, tetapi bila dibiarkan sampai waktunya hampir habis, kita mungkin hanya dapat menyelesaikannya tanpa kesempatan memeriksanya dengan cermat. Sebagian kesulitan karena itu timbul dari menunda-nunda dan tidak sempat mempersiapkan diri, padahal masalah itu dapat dikurangi dengan mulai bertindak lebih cepat.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๒Bila seseorang membangun kebahagiaannya di atas penderitaan orang lain, dengan menggunakan kekuatan atau kekerasan untuk menyakiti mereka, kebahagiaan yang diperolehnya tidak akan bertahan lama, dan ia tidak akan memperoleh kebahagiaan setelah meninggal. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๒Penjelasannya: Kata "semua makhluk" mencakup manusia maupun makhluk lainnya, "tongkat" di sini berarti batang kayu atau senjata yang digunakan untuk menyakiti, dan "setelah meninggal" berarti sesudah kematian. Kata mutiara ini memperingatkan bahwa mencari kebahagiaan bagi diri sendiri dengan menyakiti kehidupan lain adalah perbuatan jahat dan tidak membawa kebahagiaan di alam berikutnya.

อธิบายบทเชื่อม ๒Dalam kitab komentar Dhammapada dikisahkan bahwa Sang Buddha melihat sekelompok anak sedang memukuli seekor ular dengan tongkat. Ketika Beliau menanyakan alasan mereka berbuat demikian, anak-anak itu menjawab karena takut dipatuk ular. Beliau lalu mengajarkan bahwa orang yang menginginkan kebahagiaan bagi dirinya tidak semestinya menyakiti makhluk lain, kemudian mengucapkan syair ini. Kisah ini mengajak kita merenungkan bahwa sebagaimana kita mencintai hidup dan tidak ingin merasakan sakit, demikian pula kehidupan lain menginginkan kebahagiaan dan tidak ingin disakiti.

อธิบายบทเชื่อม ๒Orang yang menyakiti orang lain mungkin memperoleh kepuasan atau keuntungan sesaat, tetapi kepuasan itu timbul di atas penderitaan pihak lain, dan dapat pula menimbulkan ketakutan, pertikaian, dan permusuhan. Menyakiti hingga menjadi kebiasaan juga dapat membuat seseorang lebih mudah mengabaikan penderitaan orang lain. Kita karena itu hendaknya melatih cinta kasih dan menimbang apakah hal yang sedang kita lakukan demi kebahagiaan diri sendiri itu menimbulkan kesusahan bagi seseorang.

ตัวอย่างในชีวิตBila pelajaran ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, orang yang mengemudi setelah minum mungkin mengabaikan bahayanya, padahal perbuatan itu berisiko melukai dirinya sendiri dan orang lain. Orang yang mengunggah fitnah tentang orang lain karena merasa puas dapat merugikan orang yang dituduh dan membuat dirinya sendiri kehilangan kepercayaan. Adapun siswa yang terbiasa menyalin pekerjaan rumah, meskipun dapat mengumpulkan tugas tepat waktu, kehilangan kesempatan berlatih dan mungkin tidak memahami pelajarannya. Contoh-contoh ini membantu kita melihat bahwa kepuasan sesaat dapat berujung pada penderitaan di kemudian hari.

สรุปKesimpulannya: Maka mereka yang tidak menginginkan penderitaan hendaknya melatih perhatian penuh dan kebijaksanaan, serta tahu menahan diri ketika hendak berbuat salah. Jika telah telanjur berbuat salah, hendaknya mengakuinya, memperbaiki kerugian sejauh yang dapat dilakukan, dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Meskipun kita tidak dapat kembali untuk mengubah apa yang telah dilakukan, kita dapat berhenti menciptakan sebab-sebab penderitaan yang baru. Karena itu, kita hendaknya tidak lengah terhadap perbuatan sendiri. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Atha pāpāni kammāniKaraṃ bālo na bujjhati
Sehi kammehi dummedhoAggidaḍḍhova tappati
Ketika orang bodoh yang berkebijaksanaan rendah berbuat jahat, ia tidak menyadarinya; ia tersiksa oleh perbuatannya sendiri seperti terbakar api

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

พุทธศาสนสุภาษิต แบบฝึกท่องจำ หน้าหลัก