ฝึกแต่งกระทู้ธรรม

เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง

เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

ฉบับทดลอง — คำอธิบายและสำนวนเชื่อมบางส่วนยังอยู่ระหว่างตรวจทาน อาจมีการปรับแก้
ภาษาของเรียงความ / Language : ไทย English Indonesia 中文 Deutsch Dansk हिन्दी 日本語 नेपाली
Contoh karangan ini hanya untuk latihan dan bukan kunci jawaban resmi. Tulislah dengan kata-kata Anda sendiri dan hafalkan kalimat Pāli beserta sumbernya dengan benar.
เรียงความภาษาอินโดนีเซีย ใช้ได้เฉพาะสุภาษิตที่มีคำอธิบายฉบับแปลแล้ว — นักธรรมชั้นโท มี ๒๙ บท · บาลีแสดงเป็นอักษรโรมัน
สุ่มบทตั้ง
นักธรรมชั้นโท · สนามหลวงกำหนดให้อ้างสุภาษิตมาประกอบอย่างน้อย ๒ บท และเขียนไม่น้อยกว่า ๓ หน้ากระดาษ · ต้องบอกชื่อคัมภีร์ที่มา และไม่ซ้ำกับบทตั้ง · บทเชื่อมใช้เฉพาะสุภาษิตในพุทธศาสนสุภาษิต เล่ม ๒
สุภาษิตบทเชื่อมที่เข้ากัน
ชั้นนี้เชื่อม ๒ บท · ลำดับที่กดเลือก = ลำดับในเรียงความ · ครบแล้วต้องเอาบทเดิมออกก่อนจึงเลือกบทอื่นได้ · เลือกครบแล้วระบบแต่งใหม่ทันที
ตัวอย่างนี้เรียบเรียงจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิตที่ผ่านการตรวจทาน ใช้ดูแนวการวางโครงเรื่องและการเชื่อมความ ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง ผู้สอบควรฝึกเขียนด้วยสำนวนของตนเอง
นักธรรมชั้นโท · บทเชื่อม ๒ บท · ภาษาอินโดนีเซีย ประมาณ ๘๑๘ คำ
สุ่มสำนวนเชื่อม
Yasaṃ laddhāna dummedhoAnatthaṃ carati attano
Attano ca paresañcaHiṃsāya paṭipajjati
Orang berkebijaksanaan rendah, setelah memperoleh kehormatan, bertindak merugikan dirinya sendiri dan berperilaku mencelakai dirinya maupun orang lain
(Khuddaka Nikāya, Jātaka, Ekanipāta 27/40)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: "Kehormatan" (yasa) di sini berarti kedudukan, kekuasaan, kemasyhuran, dan pengikut. Kata mutiara ini memperingatkan bahwa kehormatan di tangan orang yang tidak bijaksana menjadi sarana yang menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain.

ขยายความบทตั้งKehormatan dan kekuasaan bagaikan alat yang sangat kuat. Di tangan orang bijaksana, keduanya digunakan untuk menciptakan manfaat bagi umum; di tangan orang dungu, keduanya digunakan untuk memuaskan keinginannya sendiri, seperti menggunakan kekuasaan untuk menindas orang lain, mencari keuntungan yang tidak semestinya, atau menjadi begitu sombong hingga mengabaikan semua peringatan. Perbuatan seperti ini menyakiti orang lain secara langsung dan akhirnya berbalik menyakiti diri sendiri, membawa pada hilangnya rasa hormat, hukuman, dan hilangnya kehormatan itu sendiri.

ขยายความบทตั้งKata mutiara ini mengajarkan bahwa memperoleh kehormatan bukan semata-mata hal yang patut disyukuri, melainkan tanggung jawab yang memerlukan kebijaksanaan dan kebajikan untuk menjaganya. Mereka yang akan menerima kedudukan penting hendaknya mempersiapkan diri, dan mereka yang bertugas memilih orang untuk suatu kedudukan hendaknya menimbang kebijaksanaan dan perilakunya, bukan sekadar kemampuan atau kedekatan.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Sekalipun kekayaan telah habis, orang bijak masih dapat hidup, sebab kebijaksanaan adalah sarana untuk mencari kekayaan dan memecahkan masalah hidup, sedangkan orang tanpa kebijaksanaan, meskipun kaya raya, tidak dapat hidup dengan mantap. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Theragāthā:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata mutiara ini membandingkan nilai kebijaksanaan dengan harta dan menunjukkan bahwa kebijaksanaan lebih kokoh, karena kebijaksanaan adalah alat untuk memperoleh harta, menjaganya, dan menjalani hidup dengan baik dalam segala keadaan.

อธิบายบทเชื่อม ๑Orang bijaksana tetap dapat hidup meskipun hartanya habis karena ia tahu cara mencari jalan keluar, menyesuaikan diri, memulai kembali, dan menggunakan pengetahuan serta kemampuannya untuk menghasilkan pendapatan lagi. Orang yang tidak bijaksana, betapapun banyak hartanya, mungkin membelanjakannya tanpa memahami nilainya, mudah ditipu, atau salah berinvestasi hingga hartanya habis, dan setelah habis ia tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup. "Tidak dapat hidup" di sini berarti tidak dapat hidup dengan aman dan berkualitas.

อธิบายบทเชื่อม ๑Kata mutiara ini tidak mengajarkan bahwa harta tidak penting. Harta adalah sarana yang membuat hidup lebih nyaman dan memungkinkan kita berbuat lebih banyak kebaikan. Tetapi harta bersifat lahiriah dan dapat hilang karena banyak sebab, sedangkan kebijaksanaan bersifat batiniah dan tetap melekat pada diri. Mereka yang berinvestasi dalam mengembangkan kebijaksanaannya bagaikan membangun jaminan yang kokoh bagi hidupnya.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๒Bila pengetahuan dan kemampuan tidak dituntun oleh kebajikan, pemiliknya cenderung menggunakannya ke arah yang salah. Pengetahuan pun menjadi lebih banyak mendatangkan keburukan daripada manfaat dan mengikis kebaikan yang tersisa di dalam hatinya sendiri. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๒Penjelasannya: Kata mutiara ini memperingatkan bahwa pengetahuan atau keterampilan yang timbul pada orang dungu, yaitu orang tanpa kebajikan yang kurang bijaksana dalam menggunakannya, menjadi sumber bahaya daripada manfaat.

อธิบายบทเชื่อม ๒"Bagian terang" berarti kebaikan, kebajikan, dan sifat-sifat baik yang masih ada dalam diri orang itu, sedangkan "membelah kepalanya" berarti memutarbalikkan pikirannya dan menyesatkannya. Sebab ketika orang dungu memiliki pengetahuan atau kemampuan khusus, ia cenderung menggunakannya secara salah, misalnya untuk menyakiti orang lain atau mencari keuntungan yang tidak semestinya. Ketika ia melakukannya berulang-ulang, kebaikan yang dahulu dimilikinya perlahan lenyap, dan kejahatan itu membawa kesulitan bagi dirinya sendiri.

อธิบายบทเชื่อม ๒Dalam Dhammapada, kata mutiara ini berkaitan dengan seseorang yang melatih suatu keterampilan hingga mahir, tetapi menggunakan keterampilan itu untuk menyakiti orang lain sehingga menanggung akibat buruk. Kisah ini menunjukkan bahwa pengetahuan hanyalah alat; apakah membawa manfaat atau bahaya bergantung pada penggunanya. Kata mutiara ini karena itu tidak mengajarkan bahwa pengetahuan itu buruk, melainkan bahwa pendidikan harus berjalan bersama pembinaan kebajikan, dan mereka yang memperoleh pengetahuan harus berhati-hati menggunakannya dengan benar.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan sehari-hari, orang yang menjadi atasan lalu menggunakan kekuasaan untuk menindas bawahan merusak suasana kerja dan akhirnya ditentang. Orang yang terkenal di dunia maya lalu menggunakan ketenarannya untuk mempromosikan produk yang menipu merugikan pengikutnya dan kehilangan kepercayaan. Siswa yang menjadi ketua kelas lalu bersikap sewenang-wenang kepada temannya tidak mendapat kerja sama. Tetapi mereka yang menggunakan kedudukannya dengan rendah hati dan adil memperoleh rasa hormat yang sesungguhnya.

สรุปKesimpulannya: Maka mereka yang menerima kehormatan atau kedudukan hendaknya membiarkan kebijaksanaan menuntun penggunaan kekuasaan, lebih mengingat kewajiban daripada hak, dan menggunakan kehormatan itu demi manfaat semua pihak. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Yasaṃ laddhāna dummedhoAnatthaṃ carati attano
Attano ca paresañcaHiṃsāya paṭipajjati
Orang berkebijaksanaan rendah, setelah memperoleh kehormatan, bertindak merugikan dirinya sendiri dan berperilaku mencelakai dirinya maupun orang lain

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

พุทธศาสนสุภาษิต แบบฝึกท่องจำ หน้าหลัก