ฝึกแต่งกระทู้ธรรม

เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง

เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

ฉบับทดลอง — คำอธิบายและสำนวนเชื่อมบางส่วนยังอยู่ระหว่างตรวจทาน อาจมีการปรับแก้
ภาษาของเรียงความ / Language : ไทย English Indonesia 中文 Deutsch Dansk हिन्दी 日本語 नेपाली
Contoh karangan ini hanya untuk latihan dan bukan kunci jawaban resmi. Tulislah dengan kata-kata Anda sendiri dan hafalkan kalimat Pāli beserta sumbernya dengan benar.
เรียงความภาษาอินโดนีเซีย ใช้ได้เฉพาะสุภาษิตที่มีคำอธิบายฉบับแปลแล้ว — นักธรรมชั้นเอก มี ๓ บท · บาลีแสดงเป็นอักษรโรมัน
สุ่มบทตั้ง
นักธรรมชั้นเอก · สนามหลวงกำหนดให้อ้างสุภาษิตมาประกอบอย่างน้อย ๓ บท และเขียนไม่น้อยกว่า ๔ หน้ากระดาษ · ต้องบอกชื่อคัมภีร์ที่มา และไม่ซ้ำกับบทตั้ง · บทเชื่อมใช้เฉพาะสุภาษิตในพุทธศาสนสุภาษิต เล่ม ๓
สุภาษิตบทเชื่อมที่เข้ากัน
ชั้นนี้เชื่อม ๓ บท · ลำดับที่กดเลือก = ลำดับในเรียงความ · ครบแล้วต้องเอาบทเดิมออกก่อนจึงเลือกบทอื่นได้ · เลือกครบแล้วระบบแต่งใหม่ทันที
ตัวอย่างนี้เรียบเรียงจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิตที่ผ่านการตรวจทาน ใช้ดูแนวการวางโครงเรื่องและการเชื่อมความ ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง ผู้สอบควรฝึกเขียนด้วยสำนวนของตนเอง
นักธรรมชั้นเอก · บทเชื่อม ๒ บท · ภาษาอินโดนีเซีย ประมาณ ๑,๓๐๐ คำ
สุ่มสำนวนเชื่อม
ชั้นนี้ต้องอ้างสุภาษิตอย่างน้อย ๓ บท — ตัวอย่างนี้มีบทเชื่อม ๒ บท
Pisuṇena ca kodhanena
Maccharinā ca vibhūtinandinā
Sakhitaṃ na kareyya paṇḍito
Pāpo kāpurisena saṅgamo
Orang bijak hendaknya tidak bersahabat dengan pemfitnah, pemarah, orang kikir, dan orang yang bersenang-senang dalam harta; karena bergaul dengan orang jahat adalah kehinaan
(Khuddaka Nikāya, Theragāthā 26/405)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata mutiara ini menyebutkan empat jenis orang yang tidak patut dijadikan sahabat oleh orang bijaksana, yaitu pemfitnah (pisuṇa), orang yang suka membawa cerita dari satu pihak ke pihak lain agar terjadi perpecahan; pemarah (kodhana), orang yang mudah marah dan menyimpan dendam; orang kikir (maccharī), orang yang pelit dan tidak mau berbagi; dan orang yang bersenang-senang dalam harta (vibhūtinandī). Lalu disimpulkan bahwa bergaul dengan orang jahat (kāpurisa) adalah kehinaan. Kata "vibhūti" dalam bahasa Pali dapat bermakna dua, yaitu kejayaan atau harta, dan kehancuran. Buku menerjemahkannya menurut makna pertama, yaitu orang yang tenggelam dalam harta dan kejayaan hingga melupakan Dhamma. Jika mengikuti makna kedua, artinya adalah orang yang bersenang hati atas kehancuran orang lain, yaitu merasa puas ketika melihat orang lain merosot, yang juga merupakan ciri orang yang tidak patut dijadikan sahabat.

ขยายความบทตั้งSyair ini terdapat dalam Theragāthā, yaitu ucapan para bhikkhu thera yang melihat bahaya bergaul dengan orang dungu dari pengalaman mereka sendiri. Inti bait ini bertujuan agar kita belajar mengamati orang dari perilaku jasmani, ucapan, dan pikirannya, sebab keempat ciri ini semuanya menjadi sebab penderitaan bagi orang-orang di dekatnya. Pemfitnah merusak kerukunan, pemarah membuat suasana menjadi panas, orang kikir tidak membantu di saat dibutuhkan, sedangkan orang yang terlena dalam harta menilai manusia dari kekayaannya dan bukan dari kebaikannya, dan orang yang bersenang hati atas kehancuran orang lain siap menambah derita bahkan sahabatnya sendiri ketika ia tergelincir.

ขยายความบทตั้งKata "kāpurisa" secara harfiah berarti orang yang tercela, yaitu orang yang tidak memiliki kebajikan orang baik. Keempat ciri dalam bait ini karena itu menjadi tanda untuk mengenali orang semacam itu, dan merupakan lawan dari kebajikan yang patut dikembangkan, yaitu ucapan yang merukunkan, kesabaran, kemurahan hati, rasa puas dengan apa yang ada, dan muditā, yaitu turut bergembira ketika orang lain memperoleh kebaikan. Selain itu, bait ini tidak mengajarkan untuk merendahkan atau membenci siapa pun, sebab setiap orang mungkin memiliki sedikit kemarahan atau rasa kikir, tetapi bertujuan mengingatkan agar kita tidak akrab dengan orang yang memiliki watak seperti itu sebagai kebiasaannya, hingga kita ikut terseret olehnya.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Pelaku kejahatan tidak dapat menemukan tempat yang sungguh rahasia di dunia. Hanya orang bodoh yang mengira tempat yang tidak dilihat orang adalah rahasia, sehingga berani berbuat jahat. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Jātaka, Catukkanipāta:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa orang yang berbuat jahat tidak dapat menemukan tempat tersembunyi yang sejati. Orang bodoh mengira bahwa tempat yang tidak dilihat orang adalah tempat tersembunyi, sehingga berani berbuat jahat; tetapi sesungguhnya, bahkan tempat yang tampak sunyi seperti hutan pun masih ada pihak lain yang dapat mengetahui dan melihatnya. Kata "vanabhūtāni" dalam bahasa Pali secara harfiah berarti makhluk-makhluk atau satwa yang tinggal di hutan. Karena itu baris ini secara harfiah berarti "makhluk-makhluk di hutan melihat (perbuatan itu)". Buku menerjemahkannya menurut maknanya sebagai "orang-orang melihatnya sebagai hutan". Kedua cara itu menunjuk pada hal yang sama, yaitu apa yang dikira orang bodoh tidak dilihat siapa pun, sesungguhnya selalu ada yang melihat.

อธิบายบทเชื่อม ๑Syair ini terdapat dalam Jātaka. Kisahnya secara singkat adalah sebagai berikut: seorang guru ingin menguji sila murid-muridnya, maka ia menyuruh mereka pergi mencuri harta tanpa terlihat oleh siapa pun. Sebagian besar murid menurutinya, tetapi murid yang merupakan Bodhisatta tidak mau melakukannya dan berkata bahwa tempat tersembunyi bagi orang yang berbuat jahat tidak ada di dunia ini; setidaknya dirinya sendiri pasti mengetahuinya. Guru itu pun merasa puas terhadap murid tersebut. Kisah ini menunjukkan bahwa orang yang sungguh-sungguh menjaga sila tidak berbuat jahat bahkan di tempat yang dikiranya tidak dilihat siapa pun.

อธิบายบทเชื่อม ๑Prinsip Dhamma yang berkaitan adalah hiri dan ottappa, yaitu Dhamma pelindung dunia. Hiri adalah rasa malu dalam hati terhadap kejahatan, ottappa adalah rasa takut akan akibat kejahatan. Orang yang memiliki hiri tahu bahwa dirinya sendiri adalah saksi atas perbuatannya, dan bahwa perbuatan yang telah dilakukan akan berbuah sesuai sebabnya, tidak bergantung pada ada atau tidaknya orang yang melihat. Karena itu, pelajar hendaknya tidak memahaminya sekadar sebagai rasa takut tertangkap, melainkan sebagai latihan untuk meneguhkan kebaikan dari dalam diri.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๒Apabila seseorang membiarkan perilaku buruk menumpuk hingga menyelimuti batinnya, ia menjatuhkan dirinya sendiri seperti orang yang ditawan penjahat, sedangkan orang yang memiliki sila dapat berdiri dengan teguh. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๒Penjelasannya: Kata mutiara ini menunjukkan bahaya dari keadaan tidak bermoral, yaitu tidak memiliki sila, dengan perilaku jasmani dan ucapan yang rusak. Kata "accantadussīlyaṃ" berarti ketiadaan moral yang sangat parah, atau ketiadaan moral yang menguasai diri sepenuhnya. Adapun "māluvā" adalah tanaman menjalar māluvā, yaitu tanaman merambat yang melilit pohon besar; ketika tumbuh, ia menyelimuti pohon itu hingga akhirnya pohon itu patah dan tumbang. Baris terakhir, "yathā naṃ icchatī diso", secara harfiah berarti "sebagaimana yang diinginkan musuh terhadapnya." Kata "diso" berarti musuh atau orang yang berniat jahat. Buku menerjemahkannya menurut maknanya sebagai "ditawan oleh penjahat", agar tergambar bahwa orang yang tidak bermoral jatuh ke dalam keadaan yang ingin dilihat oleh musuhnya, yaitu terbelenggu oleh kejahatannya sendiri dan tidak bebas. Makna utama bait ini karena itu terletak pada kenyataan bahwa orang yang tidak bermoral dapat mencelakai dirinya sendiri sama seperti musuh mencelakainya.

อธิบายบทเชื่อม ๒Dalam kitab komentar Dhammapada, syair ini diucapkan berkenaan dengan Devadatta, yang penuh iri hati dan melakukan banyak kejahatan. Kejahatan-kejahatan itu menumpuk hingga membawa kehancuran bagi dirinya sendiri. Karena itu Sang Buddha membandingkan bahwa ketiadaan moral menguasai orang itu seperti tanaman menjalar māluvā menyelimuti pohon sāla. Orang yang tidak bermoral mencelakai dirinya sendiri sama seperti yang diinginkan musuh atau penjahat terhadapnya, tanpa perlu ada orang lain yang mencelakainya.

อธิบายบทเชื่อม ๒Hal yang patut diperhatikan adalah bahwa perumpamaan tanaman menjalar māluvā menunjukkan bahwa kejahatan sering bermula dari hal kecil, lalu perlahan-lahan melilit hingga sulit dilepaskan, sama seperti pelanggaran sila yang bermula dari kelengahan atau kebiasaan, tetapi jika dibiarkan akan menjadi watak. Kata mutiara ini tidak mengutuk orang yang pernah berbuat salah, sebab orang yang menyadari dirinya lalu kembali menjaga sila dapat memotong tanaman menjalar itu. Dalam ajaran Dhamma, sila adalah dasar bagi konsentrasi dan kebijaksanaan, sehingga orang yang silanya cacat sulit maju dalam Dhamma yang lebih tinggi.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan sehari-hari, bhikkhu dan samanera di vihara yang bergaul dengan orang yang suka membawa cerita tentang orang lain hingga menimbulkan perselisihan, tanpa sadar dapat berprasangka terhadap sesama rekan dalam Dhamma. Di kalangan umat awam, pekerja yang dekat dengan orang yang suka bergunjing di tempat kerja dapat ikut terseret ke dalam konflik. Pelajar yang bergaul dengan teman yang mudah marah dan suka menggunakan kekerasan dapat ikut mendapat kesulitan. Adapun bergaul dengan orang yang menilai segala sesuatu dari harta dan kemewahan akan membuat batin kita sedikit demi sedikit terbawa oleh materi.

สรุปKesimpulannya: Orang bijaksana hendaknya mengamati perilaku orang yang hendak dijadikan sahabat, tidak akrab dengan orang yang suka memfitnah, pemarah, kikir, atau terlena dalam harta. Pada saat yang sama, hendaknya juga memeriksa diri sendiri apakah memiliki ciri-ciri tersebut, lalu meninggalkannya, agar menjadi sahabat yang baik bagi orang lain dan menjaga hidup tetap berada di antara orang-orang baik. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Pisuṇena ca kodhanena
Maccharinā ca vibhūtinandinā
Sakhitaṃ na kareyya paṇḍito
Pāpo kāpurisena saṅgamo
Orang bijak hendaknya tidak bersahabat dengan pemfitnah, pemarah, orang kikir, dan orang yang bersenang-senang dalam harta; karena bergaul dengan orang jahat adalah kehinaan

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

พุทธศาสนสุภาษิต แบบฝึกท่องจำ หน้าหลัก