ฝึกแต่งกระทู้ธรรม

เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง

เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

ฉบับทดลอง — คำอธิบายและสำนวนเชื่อมบางส่วนยังอยู่ระหว่างตรวจทาน อาจมีการปรับแก้
ภาษาของเรียงความ / Language : ไทย English Indonesia 中文 Deutsch Dansk हिन्दी 日本語 नेपाली
Contoh karangan ini hanya untuk latihan dan bukan kunci jawaban resmi. Tulislah dengan kata-kata Anda sendiri dan hafalkan kalimat Pāli beserta sumbernya dengan benar.
เรียงความภาษาอินโดนีเซีย ใช้ได้เฉพาะสุภาษิตที่มีคำอธิบายฉบับแปลแล้ว — ธรรมศึกษาชั้นตรี ระดับประถมศึกษา มี ๖ บท · บาลีแสดงเป็นอักษรโรมัน
สุ่มบทตั้ง
ธรรมศึกษาชั้นตรี ระดับประถมศึกษา · ขอบข่ายหลักสูตร ๒๕๖๔ กำหนดให้อ้างอิงสุภาษิตที่กำหนดให้เท่านั้น ไม่น้อยกว่า ๑ สุภาษิต ความยาวตั้งแต่ ๒ หน้าขึ้นไป (เว้นบรรทัด) พร้อมยกตัวอย่างเหตุการณ์ในชีวิตประจำวัน · บทเชื่อมใช้เฉพาะ ๑๕ บทในขอบข่ายของช่วงชั้นนี้
สุภาษิตบทเชื่อมที่เข้ากัน
ชั้นนี้เชื่อม ๑ บท · กดเลือกบทอื่นเพื่อเปลี่ยนแทนบทเดิม · เลือกครบแล้วระบบแต่งใหม่ทันที
ตัวอย่างนี้เรียบเรียงจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิตที่ผ่านการตรวจทาน ใช้ดูแนวการวางโครงเรื่องและการเชื่อมความ ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง ผู้สอบควรฝึกเขียนด้วยสำนวนของตนเอง
ธรรมศึกษาชั้นตรี ระดับประถมศึกษา · บทเชื่อม ๑ บท · ภาษาอินโดนีเซีย ประมาณ ๖๙๐ คำ
สุ่มสำนวนเชื่อม
Sādhu sabbattha saṃvaro
Pengendalian diri di segala tempat adalah baik
(Saṃyutta Nikāya, Sagāthāvagga 15/106)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: "Pengendalian diri" berarti berhati-hati dan mengendalikan perilaku sendiri agar tidak menyimpang atau menimbulkan kesulitan. "Dalam segala hal" di sini berarti pengendalian di semua pintu indria, meliputi pencerapan, perbuatan, ucapan, dan pikiran. Karena itu kata mutiara ini mengajarkan seseorang untuk berhati-hati secara menyeluruh, tidak membiarkan kecerobohan atau kekotoran batin mengarah pada menyakiti diri sendiri dan orang lain.

ขยายความบทตั้งDalam Bhikkhu Vagga dari Dhammapada, Sang Buddha menjelaskan nilai pengendalian mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, ucapan, dan pikiran, serta pengendalian di semua pintu, dan bersabda bahwa bhikkhu yang terkendali di semua pintu terbebas dari segala penderitaan. Bagian ini menunjukkan pentingnya pengendalian diri dalam praktik Dhamma untuk mengakhiri penderitaan. Ini bukan hanya berarti bersikap sopan, tetapi juga berlatih agar keadaan-keadaan tidak bajik tidak menguasai batin.

ขยายความบทตั้งPengendalian tubuh berarti menahan diri dari menyakiti, mencuri, dan berbuat asusila. Pengendalian ucapan berarti menahan diri dari berbohong, ucapan yang memecah belah, ucapan kasar, dan omong kosong. Pengendalian pikiran berarti menjaga agar keserakahan, kemarahan, dan kebodohan batin tidak menguasai dan mendorong seseorang berpikir, berbicara, atau bertindak merugikan. Selain itu, hendaknya melatih pengendalian indria, yaitu berhati-hati dalam mencerap melalui mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, sehingga ketika melihat, mendengar, atau mengalami berbagai objek, seseorang tetap penuh perhatian dan tidak membiarkan rasa suka atau tidak suka mengarah pada keadaan tidak bajik dan tindakan menyakiti.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Orang bijak mengetahui mana yang bermanfaat dan mana yang merugikan, sehingga ia menjaga sila dengan murni dan tidak mau melanggar aturan demi keuntungan kecil. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Itivuttaka:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: "Orang bijaksana" berarti mereka yang memiliki kebijaksanaan dan tahu menimbang apa yang bermanfaat dan apa yang merugikan. "Hendaknya menjaga silanya" berarti hendaknya menjaga tubuh dan ucapan tetap terkendali sesuai dengan aturan latihan yang mereka jalankan. Kata mutiara ini mengajarkan orang bijaksana untuk melihat pentingnya perilaku baik dan menjalankan sila dengan sengaja, dengan memahami manfaatnya, bukan sekadar mengikuti orang lain tanpa mengetahui alasannya.

อธิบายบทเชื่อม ๑Dalam Sukhapatthanā Sutta, Sang Buddha bersabda bahwa orang bijaksana, yang menginginkan tiga jenis kebahagiaan, hendaknya menjaga silanya. Ketiganya adalah pujian, perolehan kekayaan, dan terlahir di alam surga setelah meninggal. Ajaran ini menunjukkan bahwa sila menunjang manfaat baik saat ini maupun di masa depan. Karena itu, orang bijaksana hendaknya menimbang akibat perilakunya dengan pandangan jauh ke depan dan tidak meninggalkan apa yang benar demi kesenangan sesaat atau keuntungan segera.

อธิบายบทเชื่อม ๑Mengenai pujian, kejujuran dan tidak menyakiti orang lain adalah perilaku yang dipuji oleh para bijaksana, dan keduanya membantu membangun kepercayaan dalam hidup bersama. Mengenai kekayaan, tidak korupsi dan tidak lengah membentuk landasan yang menopang mata pencaharian yang jujur dan perlindungan harta sendiri; hidup yang terjamin juga memerlukan ketekunan, kemampuan, dan pengeluaran yang wajar. Terlahir di alam surga adalah manfaat masa depan yang disebutkan dalam khotbah itu. Karena itu, orang bijaksana melihat nilai sila baik sebagai kebaikan yang patut dipraktikkan maupun sebagai sebab kebahagiaan yang patut dibangun.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan sehari-hari, pengendalian diri tampak melalui perbuatan yang pantas, seperti tidak membuat kegaduhan yang mengganggu orang lain di tempat umum, dan menggunakan media sosial tanpa kata-kata kasar, tanpa fitnah, dan tanpa meneruskan pesan tanpa berpikir, yang membantu mengurangi sebab-sebab pertikaian dan kesulitan. Bagi seorang siswa, ketika melihat temannya berhasil, bila rasa iri muncul, hendaknya ia penuh perhatian dan menjaga batinnya, tidak mengatakan atau melakukan apa pun yang menyakiti temannya, dan sebaliknya berusaha mengembangkan kemampuannya sendiri. Pengendalian diri seperti ini melatih kita memilih bertindak dengan bertanggung jawab, bukan mengikuti emosi tanpa berpikir.

สรุปKesimpulannya: Maka mereka yang menginginkan kedamaian dalam hidup hendaknya terus melatih pengendalian diri, dalam pencerapan, perbuatan, ucapan, dan pikiran, serta mempraktikkannya di setiap tempat dan setiap kesempatan. Pengendalian diri bagaikan pagar yang mencegah kita tanpa sengaja tersesat ke dalam kejahatan, dan merupakan landasan yang menopang perkembangan batin dan kebijaksanaan. Dengan latihan yang berkelanjutan, ia membantu kita hidup dengan cermat dan mengurangi tindakan menyakiti. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Sādhu sabbattha saṃvaro
Pengendalian diri di segala tempat adalah baik

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

พุทธศาสนสุภาษิต แบบฝึกท่องจำ หน้าหลัก