ฝึกแต่งกระทู้ธรรม

เลือกพุทธศาสนสุภาษิตบทตั้ง ระบบจะเลือกบทเชื่อมและเรียบเรียงเป็นตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรมตามแบบสนามหลวง

เป็นตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลย — ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยภาษาของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

ฉบับทดลอง — คำอธิบายและสำนวนเชื่อมบางส่วนยังอยู่ระหว่างตรวจทาน อาจมีการปรับแก้
ภาษาของเรียงความ / Language : ไทย English Indonesia 中文 Deutsch Dansk हिन्दी 日本語 नेपाली
Contoh karangan ini hanya untuk latihan dan bukan kunci jawaban resmi. Tulislah dengan kata-kata Anda sendiri dan hafalkan kalimat Pāli beserta sumbernya dengan benar.
เรียงความภาษาอินโดนีเซีย ใช้ได้เฉพาะสุภาษิตที่มีคำอธิบายฉบับแปลแล้ว — ธรรมศึกษาชั้นตรี ระดับมัธยมศึกษา มี ๙ บท · บาลีแสดงเป็นอักษรโรมัน
สุ่มบทตั้ง
ธรรมศึกษาชั้นตรี ระดับมัธยมศึกษา · ขอบข่ายหลักสูตร ๒๕๖๔ กำหนดให้อ้างอิงสุภาษิตที่กำหนดให้เท่านั้น ไม่น้อยกว่า ๑ สุภาษิต ความยาวตั้งแต่ ๒ หน้าขึ้นไป (เว้นบรรทัด) พร้อมยกตัวอย่างเหตุการณ์ในชีวิตประจำวัน · บทเชื่อมใช้เฉพาะ ๑๕ บทในขอบข่ายของช่วงชั้นนี้
สุภาษิตบทเชื่อมที่เข้ากัน
ชั้นนี้เชื่อม ๑ บท · กดเลือกบทอื่นเพื่อเปลี่ยนแทนบทเดิม · เลือกครบแล้วระบบแต่งใหม่ทันที
ตัวอย่างนี้เรียบเรียงจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิตที่ผ่านการตรวจทาน ใช้ดูแนวการวางโครงเรื่องและการเชื่อมความ ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง ผู้สอบควรฝึกเขียนด้วยสำนวนของตนเอง
ธรรมศึกษาชั้นตรี ระดับมัธยมศึกษา · บทเชื่อม ๑ บท · ภาษาอินโดนีเซีย ประมาณ ๗๒๘ คำ
สุ่มสำนวนเชื่อม
Saññamato veraṃ na cīyati
Bila seseorang senantiasa waspada, permusuhan tidak timbul
(Dīgha Nikāya, Mahāvagga 10/159)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: "Mengendalikan diri" berarti menahan diri, berhati-hati dalam perbuatan dan kata-kata agar tidak melanggar atau menyakiti orang lain, serta menjaga batin agar kemarahan dan niat jahat tidak mengarah pada perbuatan salah. "Permusuhan" (vera) berarti rasa bermusuhan, perselisihan, dan memendam dendam dengan pikiran untuk membalas. Kata mutiara ini mengajarkan kita untuk mencegah sebab-sebab permusuhan dengan mengendalikan perilaku, tidak menimbulkan kesulitan bagi orang lain, dan tidak melanjutkan perselisihan dengan pembalasan.

ขยายความบทตั้งKata mutiara ini muncul bersama sabda tentang kebajikan yang bertambah bagi orang yang memberi, orang bijaksana yang meninggalkan kejahatan, dan kedamaian yang datang dari berakhirnya keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Dengan demikian syair itu menunjukkan nilai berbuat baik, pengendalian diri, dan pengembangan kebijaksanaan untuk meninggalkan kekotoran batin. Mengenai tidak menciptakan permusuhan, berhati-hati sebelum berpikir, berbicara, dan bertindak adalah hal yang penting, karena kata-kata atau perbuatan yang menyakiti dapat menimbulkan luka dan mengundang pembalasan sampai pertikaian meluas.

ขยายความบทตั้งPengendalian diri tidak berarti bahwa kita dapat mengendalikan semua pikiran atau perbuatan orang lain. Artinya adalah bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri, tidak menjadi pihak yang menciptakan sebab-sebab tindakan menyakiti, dan ketika menghadapi ketidaksenangan, tidak membiarkan kemarahan mengarah pada pembalasan. Bila kita telah berbuat salah, hendaknya kita mengakuinya, meminta maaf, dan memperbaikinya. Bila ada salah paham, hendaknya kita menjelaskan dengan alasan yang jelas. Bertindak dengan cara ini membantu menyelesaikan masalah dan mengurangi berlanjutnya perselisihan.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Sila, yaitu perilaku yang baik serta pengendalian perbuatan dan ucapan, menopang kehidupan di setiap tahap usia dan terus mendatangkan manfaat hingga usia tua. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Saṃyutta Nikāya, Sagāthāvagga:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata "sila" berarti perilaku yang baik, yaitu pengendalian jasmani dan ucapan agar tertib dengan menghindari perbuatan dan ucapan yang tercela. Adapun kata "sampai usia tua" berarti hingga mencapai usia lanjut. Kata mutiara "sīlaṃ yāva jarā sādhu", yang berarti "Sila membawa manfaat sampai usia tua", mengajarkan kita untuk melihat bahwa sila memiliki nilai dan menopang hidup pada setiap tahap usia. Baik sebagai anak-anak, orang dewasa, maupun orang lanjut usia, menjalankan sila selalu merupakan hal yang baik dan selalu mendatangkan manfaat.

อธิบายบทเชื่อม ๑Dalam Jarā Sutta, Saṃyutta Nikāya, Sagāthāvagga, seorang dewa bertanya kepada Sang Buddha tentang apa yang membawa manfaat sampai usia tua, dan Beliau menjawab bahwa itu adalah sila. Kitab komentar menjelaskan hal ini dengan membandingkannya dengan perhiasan lahiriah, untuk menunjukkan bahwa sila adalah keindahan yang pantas bagi orang dari segala usia, baik usia kanak-kanak, usia paruh baya, maupun usia tua. Meskipun keindahan dan kekuatan tubuh berubah seiring waktu, nilai perilaku yang baik tidak berkurang hanya karena seseorang bertambah tua. Karena itu, orang yang menjalankan sila dapat mempertahankan kebaikannya sampai usia tua.

อธิบายบทเชื่อม ๑Manfaat sila tidak hanya terletak pada memperoleh kasih sayang atau pujian dari orang lain, tetapi juga pada tidak menimbulkan kesusahan akibat menyakiti orang lain, berbuat curang, dan berdusta. Orang yang menjalankan sila memiliki alasan untuk merasa tenang ketika mengingat perilakunya sendiri. Selain itu, kejujuran dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain juga membantu membangun rasa saling percaya dalam hidup bersama. Karena itu, menjalankan sila secara berkesinambungan adalah melatih perilaku yang baik agar semakin kokoh, dan menopang baik diri sendiri maupun masyarakat.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan sehari-hari, orang yang berhati-hati dengan kata-katanya dan tidak meremehkan atau mengolok-olok orang lain hingga mereka merasa malu membantu mengurangi sebab-sebab pertikaian. Pengemudi yang tidak memotong jalan orang lain, tidak bersikap agresif, dan tidak menanggapi dengan emosi membantu mengurangi kemungkinan pertengkaran. Siswa yang tidak menggoda temannya, tidak mengambil barang orang lain tanpa izin, dan membicarakan masalah dengan baik ketika ada persoalan membantu menciptakan suasana yang baik di kelas. Kehati-hatian dalam hal-hal kecil seperti ini membantu mencegah masalah berkembang menjadi perselisihan yang serius.

สรุปKesimpulannya: Maka mereka yang ingin hidup damai hendaknya senantiasa mengendalikan tubuh, ucapan, dan pikiran, tidak menyakiti atau mengambil keuntungan dari orang lain, sambil melatih kesabaran dan cinta kasih. Ketika dirugikan, hendaknya menahan pikiran untuk membalas dan menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat. Memaafkan dapat berjalan bersama dengan melindungi diri sendiri dan meminta bantuan untuk menghentikan tindakan menyakiti. Ketika seseorang tidak menciptakan sebab-sebab permusuhan dan tidak menanggapi dengan niat jahat. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Saññamato veraṃ na cīyati
Bila seseorang senantiasa waspada, permusuhan tidak timbul

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

พุทธศาสนสุภาษิต แบบฝึกท่องจำ หน้าหลัก