ชุดตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรม (ข้อสอบสนามหลวงปีเก่า) กลับหน้าฝึกแต่งกระทู้
ชั้น: นักธรรมชั้นโท ๒ธรรมศึกษาชั้นตรี ประถม ๕ธรรมศึกษาชั้นตรี มัธยม ๕ธรรมศึกษาชั้นตรี อุดม ๑ธรรมศึกษาชั้นโท ประถม ๔ธรรมศึกษาชั้นโท มัธยม ๓ธรรมศึกษาชั้นเอก ประถม ๑ธรรมศึกษาชั้นเอก มัธยม ๑ธรรมศึกษาชั้นเอก อุดม ๑
ภาษา: ไทย EnglishIndonesia中文DeutschDanskहिन्दी日本語नेपाली
ซ่อนป้ายโครงสร้าง ในหน้าต่างพิมพ์ ให้เลือกปลายทาง "บันทึกเป็น PDF" และเปิด "กราฟิกพื้นหลัง" เพื่อให้เห็นแถบสี
ตัวอย่างสำหรับฝึกหัด ไม่ใช่เฉลยของสนามหลวง

ตัวอย่างเรียงความแก้กระทู้ธรรม

ธรรมศึกษาชั้นตรี ประถม

จากข้อสอบสนามหลวงปีเก่า ๕ ข้อ · ภาษาอินโดนีเซีย
ข้อพ.ศ.กระทู้ตั้งบทเชื่อม
๑๒๕๖๘ สุขํ ยาว ชรา สีลํ๑
๒๒๕๖๖ ปาปานํ อกรณํ สุขํ๑
๓๒๕๖๕ ปาปานํ อกรณํ สุขํ๑
๔๒๕๖๓ สติมโต สทา ภทฺทํ๑
๕๒๕๖๑ ททมาโน ปิโย โหติ๑

วิธีใช้: อ่านกระทู้ตั้งแล้วลองวางโครงเรื่องด้วยตนเองก่อน จึงเปิดดูตัวอย่าง สังเกตลำดับ: บทตั้ง → อารัมภบท → อธิบายบทตั้ง → ขยายความ → ประโยคสะพานและบทเชื่อม (บอกคัมภีร์ที่มา) → อธิบายบทเชื่อม → ตัวอย่างในชีวิต → สรุปพร้อมยกบทตั้ง → ปิดท้าย

ประโยคสะพานบทเชื่อมและคำอธิบายตัวอย่างในชีวิตสรุปและปิดท้าย

ตัวอย่างเรียบเรียงโดยระบบจากคำอธิบายพุทธศาสนสุภาษิต บทเชื่อมเลือกจากสุภาษิตที่โจทย์กำหนดให้ (ธรรมศึกษา) หรือจากสุภาษิตในหนังสือของชั้นนั้นที่เนื้อความเข้ากัน (นักธรรม) ผู้สอบควรเรียบเรียงด้วยสำนวนของตนเอง และจำบาลีกับคัมภีร์ที่มาให้ถูกต้อง

พิมพ์จากระบบสนับสนุนการออกข้อสอบ · 01/10/2569

ข้อ ๑ · ข้อสอบสนามหลวง พ.ศ. ๒๕๖๘ ธรรมศึกษาชั้นตรี ประถม · บทเชื่อม ๑ บท (เลือกจากที่โจทย์กำหนด) · ประมาณ ๖๔๒ คำ
โจทย์: สุขํ ยาว ชรา สีลํ. ศีลนำสุขมาให้ตราบเท่าชรา. แต่งอธิบายให้สมเหตุสมผล โดยใช้สุภาษิตที่สนามหลวงแผนกธรรม กำหนดมาให้จำนวน ๓ สุภาษิตข้างล่างนี้มาประกอบอ้างอิงเพียง ๑ สุภาษิต และสุภาษิตที่อ้างมานั้น ควรอธิบายเชื่อมความให้สมกับเรื่องในกระทู้ตั้ง ในชั้นนี้กำหนดให้เขียนลงในกระดาษใบตอบตั้งแต่ ๒ หน้า (เว้นบรรทัด) ขึ้นไป สีลํ รกฺเขยฺย เมธาวี. ปราชญ์พึงรักษาศีล คัมภีร์ที่มา : ขุททกนิกาย อิติวุตตกะ (ขุ.อิติ.) ปาปานํ อกรณํ สุขํ การไม่ทำบาป นำสุขมาให้ คัมภีร์ที่มา : ขุททกนิกาย ธรรมบท (ขุ.ธ.) กลฺยาณการี กลฺยาณํ ปาปการี จ ปาปกํ ทำดีได้ดี ทำชั่วได้ชั่ว คัมภีร์ที่มา : สังยุตตนิกาย สคาถวรรค (สํ.ส.)
Sukhaṃ yāva jarā sīlaṃ
Sila membawa kebahagiaan hingga usia tua
(Khuddaka Nikāya, Dhammapada 25/59)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa menjalankan sila adalah sebab kebahagiaan pada setiap tahap kehidupan, dari masa muda hingga usia tua. Salah satu kebahagiaan dari sila adalah ketenangan batin karena mengetahui bahwa diri sendiri tidak berbuat salah atau menyakiti orang lain. Dalam Nāga Vagga dari Dhammapada, kata mutiara ini muncul bersama ajaran bahwa keyakinan yang kokoh, tercapainya kebijaksanaan, dan tidak berbuat jahat semuanya membawa kebahagiaan.

ขยายความบทตั้งSila membawa kebahagiaan dalam beberapa cara. Orang yang tidak menyakiti, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, dan tidak minum minuman memabukkan yang menyebabkan kelengahan tidak menimbulkan kesulitan melalui perbuatan-perbuatan tersebut. Ketika mengingat perilakunya sendiri, ia memiliki alasan untuk merasa tenang dan tidak perlu menyembunyikan kesalahan yang tidak ia lakukan. Lebih dari itu, kejujuran dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain membantu membangun kepercayaan dalam hidup bersama.

ขยายความบทตั้งNamun demikian, menjalankan sila tidak berarti bahwa hidup sama sekali tanpa penderitaan atau masalah. Orang yang memiliki sila tetap dapat jatuh sakit, mengalami kehilangan, atau menemui kekecewaan. Tetapi sila mencegahnya menambah kesulitan melalui kesalahannya sendiri, dan memberinya pegangan untuk hidup dengan jujur. Walaupun tubuh berubah seiring usia, ketenangan batin yang datang dari perilaku baik tetap berharga.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Orang bijak mengetahui mana yang bermanfaat dan mana yang merugikan, sehingga ia menjaga sila dengan murni dan tidak mau melanggar aturan demi keuntungan kecil. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Itivuttaka:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: "Orang bijaksana" berarti mereka yang memiliki kebijaksanaan dan tahu menimbang apa yang bermanfaat dan apa yang merugikan. "Hendaknya menjaga silanya" berarti hendaknya menjaga tubuh dan ucapan tetap terkendali sesuai dengan aturan latihan yang mereka jalankan. Kata mutiara ini mengajarkan orang bijaksana untuk melihat pentingnya perilaku baik dan menjalankan sila dengan sengaja, dengan memahami manfaatnya, bukan sekadar mengikuti orang lain tanpa mengetahui alasannya.

อธิบายบทเชื่อม ๑Dalam Sukhapatthanā Sutta, Sang Buddha bersabda bahwa orang bijaksana, yang menginginkan tiga jenis kebahagiaan, hendaknya menjaga silanya. Ketiganya adalah pujian, perolehan kekayaan, dan terlahir di alam surga setelah meninggal. Ajaran ini menunjukkan bahwa sila menunjang manfaat baik saat ini maupun di masa depan. Karena itu, orang bijaksana hendaknya menimbang akibat perilakunya dengan pandangan jauh ke depan dan tidak meninggalkan apa yang benar demi kesenangan sesaat atau keuntungan segera.

อธิบายบทเชื่อม ๑Mengenai pujian, kejujuran dan tidak menyakiti orang lain adalah perilaku yang dipuji oleh para bijaksana, dan keduanya membantu membangun kepercayaan dalam hidup bersama. Mengenai kekayaan, tidak korupsi dan tidak lengah membentuk landasan yang menopang mata pencaharian yang jujur dan perlindungan harta sendiri; hidup yang terjamin juga memerlukan ketekunan, kemampuan, dan pengeluaran yang wajar. Terlahir di alam surga adalah manfaat masa depan yang disebutkan dalam khotbah itu. Karena itu, orang bijaksana melihat nilai sila baik sebagai kebaikan yang patut dipraktikkan maupun sebagai sebab kebahagiaan yang patut dibangun.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan sehari-hari, keluarga yang anggotanya jujur satu sama lain, tidak saling menyakiti, dan tidak saling menipu memiliki landasan kepercayaan yang baik. Orang yang tidak minum minuman keras tidak mengeluarkan uang untuk minum dan tidak menimbulkan kesulitan karena mabuk. Siswa yang tidak mencuri barang teman dan tidak berbohong tidak perlu menyembunyikan kesalahan-kesalahan seperti itu. Ketika ia tumbuh dewasa dan tetap menjaga perilaku baiknya, ia dapat menjadi teladan yang baik bagi generasi berikutnya.

สรุปKesimpulannya: Maka mereka yang menginginkan kebahagiaan hendaknya melatih diri menjalankan sila sebagai cara hidup sehari-hari, tidak mengabaikannya hanya karena tidak ada yang melihat, dan secara teratur memeriksa perilaku sendiri. Bila berbuat salah, hendaknya mengakuinya, memperbaikinya, dan berhati-hati agar tidak mengulanginya. Menjalankan sila secara konsisten membangun sebab-sebab ketenangan batin dan hidup bersama dengan damai, yang berharga sejak hari ini hingga usia tua. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Sukhaṃ yāva jarā sīlaṃ
Sila membawa kebahagiaan hingga usia tua

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

ข้อ ๒ · ข้อสอบสนามหลวง พ.ศ. ๒๕๖๖ ธรรมศึกษาชั้นตรี ประถม · บทเชื่อม ๑ บท (เลือกจากที่โจทย์กำหนด) · ประมาณ ๕๔๔ คำ
โจทย์: ปาปานํ อกรณํ สุขํ. การไม่ทำบาป นำสุขมาให้. แต่งอธิบายความให้สมเหตุสมผล โดยใช้สุภาษิตที่สนามหลวงแผนกธรรมกำหนดมาให้ จำนวน ๓ สุภาษิตข้างล่างนี้ มาประกอบอ้างอิงเพียง ๑ สุภาษิต และสุภาษิตที่อ้างมานั้น ควรอธิบายเชื่อมความให้ สมกับเรื่องในกระทู้ตั้ง ในชั้นนี้ กำหนดให้เขียนลงในกระดาษใบตอบตั้งแต่ ๒ หน้า (เว้นบรรทัด) ขึ้นไป ปาปานิ ปริวชฺชเย. พึงละเว้นบาปทั้งหลาย คัมภีร์ที่มา: ขุททกนิกาย ธรรมบท ทุกฺโข ปาปสฺส อุจฺจโย. ความสั่งสมบาป นำทุกข์มาให้. คัมภีร์ที่มา: ขุททกนิกาย ธรรมบท สุกรํ สาธุนา สาธุ. ความดี อันคนดีทำง่าย. คัมภีร์ที่มา: ขุททกนิกาย ธรรมบท
Pāpānaṃ akaraṇaṃ sukhaṃ
Berbahagialah bila dapat terbebas dari kejahatan
(Khuddaka Nikāya, Dhammapada 25/59)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa tidak berbuat jahat membawa kebahagiaan. Kata "tidak berbuat jahat" berarti menghindari segala kejahatan, baik melalui jasmani, ucapan, maupun pikiran. Adapun "kebahagiaan" di sini berarti tubuh yang nyaman dan pikiran yang tenteram, perasaan lega, tanpa ada sesuatu pun yang perlu ditakuti atau dicemaskan. Sabda Sang Buddha ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak harus diperoleh dari memiliki berbagai hal, tetapi dapat timbul dari tidak melakukan hal-hal yang tidak baik.

ขยายความบทตั้งKebahagiaan yang timbul dari tidak berbuat jahat adalah kebahagiaan yang mendalam dan kokoh. Orang yang tidak berbuat jahat tentu dapat tidur nyenyak, tidak perlu takut kesalahannya akan terungkap, tidak perlu terus curiga terhadap orang lain, dan tidak perlu berbohong untuk menutupi kesalahan, sehingga pikirannya ringan dan nyaman. Sebaliknya, orang yang berbuat jahat, meskipun memperoleh apa yang diinginkannya, pikirannya justru gelisah oleh rasa takut, rasa malu, dan penyesalan. Dalam Dhammapada, sabda Sang Buddha ini muncul bersama dengan pernyataan bahwa sila membawa kebahagiaan hingga usia tua, keyakinan yang teguh membawa kebahagiaan, dan memperoleh kebijaksanaan membawa kebahagiaan, yang menunjukkan bahwa tidak berbuat jahat adalah dasar dari segala kebahagiaan.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Bila seseorang senantiasa berhati-hati menghindari segala kejahatan, hidupnya akan aman dari kesusahan, berbeda dengan orang lengah yang mendekati kejahatan sehingga mudah tergelincir. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa hendaknya kita menghindari segala kejahatan. Kata "menghindari" berarti menjauh, tidak mendekat, dan tidak melakukannya. Adapun "segala kejahatan" berarti kejahatan dalam segala bentuk, baik kecil maupun besar, baik melalui jasmani, ucapan, maupun pikiran. Sabda Sang Buddha ini adalah ajaran yang lugas bahwa orang yang mencintai dirinya dan menginginkan kebahagiaan hendaknya menghindari segala jenis kejahatan dengan hati-hati.

อธิบายบทเชื่อม ๑Dalam Dhammapada, Sang Buddha memberikan perumpamaan: sebagaimana seorang pedagang yang memiliki banyak harta tetapi sedikit pengawal menghindari jalan yang berbahaya, dan orang yang mencintai hidupnya menghindari racun, demikian pula seseorang hendaknya menghindari segala kejahatan. Pedagang yang tahu bahwa suatu jalan ada perampoknya tidak akan melewati jalan itu, karena tahu bahwa ia mungkin kehilangan harta dan nyawanya. Orang yang tahu bahwa sesuatu adalah racun tidak akan menyentuhnya, karena tahu bahwa ia mungkin mati. Kejahatan bagaikan jalan yang ada perampoknya dan bagaikan racun; orang yang memahaminya dengan jelas akan menjauhinya sejak awal, tidak menunggu sampai jatuh ke dalam bahaya terlebih dahulu.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan nyata, pelajar yang mengerjakan ujian dengan kemampuannya sendiri, meskipun nilainya tidak terlalu tinggi, hatinya tenang dan bangga pada dirinya sendiri, berbeda dengan orang yang menyontek yang harus terus takut tertangkap. Pegawai yang bekerja dengan jujur dan tidak menerima suap tentu menjalani hidup dengan tenang, tanpa perlu takut terhadap pemeriksaan. Suami dan istri yang setia satu sama lain tentu hidup bersama dengan saling percaya dan bahagia.

สรุปKesimpulannya: Orang yang menginginkan kebahagiaan sejati hendaknya memulai dengan tidak berbuat jahat, bahkan pada saat tidak ada seorang pun yang melihat, karena kebahagiaan dari tidak berbuat jahat adalah kebahagiaan yang tidak perlu dibeli dengan harta dan tidak dapat direbut oleh siapa pun. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Pāpānaṃ akaraṇaṃ sukhaṃ
Berbahagialah bila dapat terbebas dari kejahatan

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

ข้อ ๓ · ข้อสอบสนามหลวง พ.ศ. ๒๕๖๕ ธรรมศึกษาชั้นตรี ประถม · บทเชื่อม ๑ บท (เลือกจากที่โจทย์กำหนด) · ประมาณ ๕๔๘ คำ
โจทย์: ปาปานํ อกรณํ สุขํ. การไม่ทำบาปก็สุข แต่งอธิบายให้สมเหตุสมผล โดยใช้สุภาษิตที่สนามหลวงแผนกธรรมกำหนดมาให้ จำนวน ๓ สุภาษิตข้างล่างนี้ มาประกอบอ้างอิง เพียง ๑ สุภาษิต และสุภาษิตที่อ้างมานั้น ควรอธิบายเชื่อมความให้สมกับเรื่องในกระทู้ตั้ง ในชั้นนี้ กำหนดให้เขียนลงในกระดาษใบตอบตั้งแต่แต่ ๒ หน้า (เว้นบรรทัด) ขึ้นไป ปาปานิ ปริวชฺชเย. พึงละเว้นบาปทั้งหลาย คัมภีร์ที่มา : ขุททกนิกาย ธรรมบท ทุกฺโข ปาปสฺส อุจฺจโย. ความสั่งสมบาป นำทุกข์มาให้ คัมภีร์ที่มา : ขุททกนิกาย ธรรมบท กลฺยาณการี กลฺยาณํ ปาปการี จ ปาปกํ. ทำดีได้ดี ทำชั่วได้ชั่ว. คัมภีร์ที่มา : สังยุตตนิกาย สคาถวรรค, ขุททกนิกาย ชาดก ทุกนิบาต
Pāpānaṃ akaraṇaṃ sukhaṃ
Berbahagialah bila dapat terbebas dari kejahatan
(Khuddaka Nikāya, Dhammapada 25/59)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa tidak berbuat jahat membawa kebahagiaan. Kata "tidak berbuat jahat" berarti menghindari segala kejahatan, baik melalui jasmani, ucapan, maupun pikiran. Adapun "kebahagiaan" di sini berarti tubuh yang nyaman dan pikiran yang tenteram, perasaan lega, tanpa ada sesuatu pun yang perlu ditakuti atau dicemaskan. Sabda Sang Buddha ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak harus diperoleh dari memiliki berbagai hal, tetapi dapat timbul dari tidak melakukan hal-hal yang tidak baik.

ขยายความบทตั้งKebahagiaan yang timbul dari tidak berbuat jahat adalah kebahagiaan yang mendalam dan kokoh. Orang yang tidak berbuat jahat tentu dapat tidur nyenyak, tidak perlu takut kesalahannya akan terungkap, tidak perlu terus curiga terhadap orang lain, dan tidak perlu berbohong untuk menutupi kesalahan, sehingga pikirannya ringan dan nyaman. Sebaliknya, orang yang berbuat jahat, meskipun memperoleh apa yang diinginkannya, pikirannya justru gelisah oleh rasa takut, rasa malu, dan penyesalan. Dalam Dhammapada, sabda Sang Buddha ini muncul bersama dengan pernyataan bahwa sila membawa kebahagiaan hingga usia tua, keyakinan yang teguh membawa kebahagiaan, dan memperoleh kebijaksanaan membawa kebahagiaan, yang menunjukkan bahwa tidak berbuat jahat adalah dasar dari segala kebahagiaan.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Orang yang menyayangi dirinya dan mendambakan kebahagiaan hendaknya menjauhi segala macam kejahatan, baik kecil maupun besar, dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran, tidak mendekatinya dan tidak melakukannya. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa hendaknya kita menghindari segala kejahatan. Kata "menghindari" berarti menjauh, tidak mendekat, dan tidak melakukannya. Adapun "segala kejahatan" berarti kejahatan dalam segala bentuk, baik kecil maupun besar, baik melalui jasmani, ucapan, maupun pikiran. Sabda Sang Buddha ini adalah ajaran yang lugas bahwa orang yang mencintai dirinya dan menginginkan kebahagiaan hendaknya menghindari segala jenis kejahatan dengan hati-hati.

อธิบายบทเชื่อม ๑Dalam Dhammapada, Sang Buddha memberikan perumpamaan: sebagaimana seorang pedagang yang memiliki banyak harta tetapi sedikit pengawal menghindari jalan yang berbahaya, dan orang yang mencintai hidupnya menghindari racun, demikian pula seseorang hendaknya menghindari segala kejahatan. Pedagang yang tahu bahwa suatu jalan ada perampoknya tidak akan melewati jalan itu, karena tahu bahwa ia mungkin kehilangan harta dan nyawanya. Orang yang tahu bahwa sesuatu adalah racun tidak akan menyentuhnya, karena tahu bahwa ia mungkin mati. Kejahatan bagaikan jalan yang ada perampoknya dan bagaikan racun; orang yang memahaminya dengan jelas akan menjauhinya sejak awal, tidak menunggu sampai jatuh ke dalam bahaya terlebih dahulu.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan nyata, pelajar yang mengerjakan ujian dengan kemampuannya sendiri, meskipun nilainya tidak terlalu tinggi, hatinya tenang dan bangga pada dirinya sendiri, berbeda dengan orang yang menyontek yang harus terus takut tertangkap. Pegawai yang bekerja dengan jujur dan tidak menerima suap tentu menjalani hidup dengan tenang, tanpa perlu takut terhadap pemeriksaan. Suami dan istri yang setia satu sama lain tentu hidup bersama dengan saling percaya dan bahagia.

สรุปKesimpulannya: Orang yang menginginkan kebahagiaan sejati hendaknya memulai dengan tidak berbuat jahat, bahkan pada saat tidak ada seorang pun yang melihat, karena kebahagiaan dari tidak berbuat jahat adalah kebahagiaan yang tidak perlu dibeli dengan harta dan tidak dapat direbut oleh siapa pun. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Pāpānaṃ akaraṇaṃ sukhaṃ
Berbahagialah bila dapat terbebas dari kejahatan

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

ข้อ ๔ · ข้อสอบสนามหลวง พ.ศ. ๒๕๖๓ ธรรมศึกษาชั้นตรี ประถม · บทเชื่อม ๑ บท (เลือกจากที่โจทย์กำหนด) · ประมาณ ๗๗๑ คำ
โจทย์: ผู้มีสติ มีความเจริญทุกเมื่อ ---------------------------------------- แต่งอธิบายให้สมเหตุสมผล โดยอ้างสุภาษิตที่สนามหลวงแผนกธรรมกำหนดให้จำนวน 3 สุภาษิตนี้ มาประกอบ 1 สุภาษิตและสุภาษิตที่อ้างมานั้น ควรอธิบายเรียงเชื่อมความให้ติดต่อสมเรื่องกับกระทู้ตั้ง ในชั้นนี้ กำหนดให้เขียนลงในใบตอบ ตั้งแต่ 2 หน้า(เว้นบรรทัด)ขึ้นไป ให้เวลา 3 ชั่วโมง ททํ มิตฺตานิ คนฺถติ ผู้ให้ย่อมผูกไมตรีไว้ได้ ที่มา สุตตันตปิฎก สังยุตตนิกาย สคาถวรรค สติ โลกสฺมิ ชาคโร. สติเป็นธรรมเครื่องตื่นอยู่ในโลก ที่มา สุตตันตปิฎก สังยุตตนิกาย สคาถวรรค สติมโต สุเว เสยฺโย. คนมีสติ เป็นผู้ประเสริฐทุกวัน ที่มา สุตตันตปิฎก สังยุตตนิกาย สคาถวรรค
Satimato sadā bhaddaṃ
Orang yang penuh perhatian senantiasa berkembang
(Saṃyutta Nikāya, Sagāthāvagga 15/306)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata "orang yang memiliki perhatian penuh" berarti orang yang mampu mengingat dan selalu sadar diri, tidak lalai baik dalam berpikir, berbicara, maupun bertindak. Adapun "kemajuan" berarti hal-hal yang baik, keselamatan, dan kemajuan hidup. Kata mutiara ini mengajarkan bahwa orang yang memiliki perhatian penuh selalu menemukan kemajuan; artinya, dalam situasi apa pun, perhatian penuh akan selalu membantu membawanya kepada hal-hal yang baik.

ขยายความบทตั้งPerhatian penuh adalah dhamma yang sangat bermanfaat, karena merupakan landasan bagi segala kebaikan. Berdana memerlukan perhatian penuh agar dapat memberi dengan benar dan tepat. Menjalankan sila memerlukan perhatian penuh agar tidak lalai melanggarnya. Bekerja memerlukan perhatian penuh agar tidak berbuat kesalahan. Belajar pun memerlukan perhatian penuh agar dapat mengingat dan memahami. Karena itu, orang yang memiliki perhatian penuh bagaikan orang yang membawa pelita ketika berjalan di tempat gelap; ia melihat jalan dengan jelas, tidak tersandung jatuh, dan tidak tersesat. Karena itu, kemajuan dapat timbul baginya setiap saat.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Bila batin seseorang dikendalikan oleh perhatian penuh, sekalipun tubuhnya tidur, batinnya tetap terjaga terhadap kebaikan dan kejahatan, berbeda dengan orang yang tanpa perhatian penuh, yang walaupun matanya terbuka tidak ubahnya orang yang tertidur. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Saṃyutta Nikāya, Sagāthāvagga:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata mutiara ini, "sati lokasmi jāgaro", berarti "Perhatian penuh adalah dhamma yang membuat terjaga di dunia." Maksudnya, perhatian penuh adalah pengingat bagi seseorang untuk menjalani hidup dengan tidak lengah, tidak lalai, dan tidak mengabaikan perbuatan baik. Kata "perhatian penuh" (sati) berarti kemampuan untuk mengingat, tidak lalai, dan menjaga pikiran tetap pada tugas yang sedang dilakukan, yang membantu seseorang mengingat kewajibannya, hal-hal yang patut dilakukan, dan hal-hal yang patut dihindari. Karena itu, orang yang memiliki perhatian penuh diumpamakan sebagai orang yang terjaga, karena ia tidak membiarkan hidupnya berjalan mengikuti kelengahan.

อธิบายบทเชื่อม ๑Tidur di sini tidak berarti tidur secara alami, tetapi merupakan perumpamaan bagi kelengahan, kelalaian, dan keterlenaan dalam berbagai hal hingga melupakan kewajiban dan mengabaikan kebenaran. Orang yang pikirannya tertidur seperti ini mudah dikuasai oleh kekotoran batin, bagaikan rumah yang penjaganya tertidur sehingga pencuri mendapat kesempatan untuk masuk dan mencuri harta. Karena itu, perhatian penuh bagaikan penjaga yang menjaga pintu pikiran, yang senantiasa mengingatkan agar tidak lalai membiarkan diri terbawa oleh emosi. Ketika keserakahan, kemarahan, atau kebodohan batin muncul, perhatian penuh membantu seseorang untuk ingat bahwa ia harus menjaga pikirannya, dan membuka kesempatan untuk menggunakan kebijaksanaan dalam merenungkan dan menahan ucapan atau tindakan yang dapat menimbulkan kerugian.

อธิบายบทเชื่อม ๑Prinsip Dhamma yang sesuai dengan penjelasan ini terdapat dalam Jāgara Sutta, yang menyatakan bahwa ketika lima indriya terjaga, lima rintangan batin (nīvaraṇa) disebut tertidur, dan ketika lima rintangan batin tertidur, lima indriya disebut terjaga. Lima indriya, yaitu keyakinan (saddhā), semangat (viriya), perhatian penuh (sati), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (paññā), adalah dhamma penting yang menopang pengembangan batin. Adapun lima rintangan batin, yaitu kāmacchanda, keinginan terhadap kesenangan indria; byāpāda, pikiran berniat jahat; thīnamiddha, kelesuan dan kantuk; uddhaccakukkucca, kegelisahan dan penyesalan; serta vicikicchā, keragu-raguan, adalah dhamma yang menghalangi pikiran untuk maju dalam kebaikan. Terjaganya indriya dan tertidurnya rintangan batin merupakan gambaran perumpamaan yang menunjukkan cara menjalani hidup dengan dhamma yang bajik (kusala), tanpa membiarkan dhamma yang tidak bajik (akusala) menguasai.

อธิบายบทเชื่อม ๑Kitab komentar Jāgara Sutta menjelaskan bahwa orang yang memiliki lima indriya dengan lengkap, meskipun sedang tidur, disebut orang yang terjaga, karena ia memiliki ketidaklengahan dan disertai kebajikan (kusala). Adapun orang yang dikuasai oleh lima rintangan batin, meskipun berada dalam sikap tubuh lainnya, disebut orang yang tertidur, karena ia memiliki kelengahan dan disertai ketidakbajikan (akusala). Karena itu, ungkapan "meskipun sedang tidur disebut terjaga" berarti menjadi orang yang tidak lengah dalam Dhamma, bukan berarti bahwa ketika sedang tidur ia tetap menyadari kejadian atau bahaya di sekitarnya sepanjang waktu.

ตัวอย่างในชีวิตDalam kehidupan nyata, pedagang yang memiliki perhatian penuh tidak akan berbelanja secara boros, tahu cara menabung, dan tidak begitu saja percaya pada ajakan berinvestasi yang berlebihan, sehingga usahanya kokoh. Tukang yang bekerja dengan mesin dengan perhatian penuh akan bekerja dengan rapi dan selamat. Pelajar yang memiliki perhatian penuh ketika mengerjakan ujian akan membaca soal dengan cermat dan tidak salah menjawab karena ceroboh. Adapun orang yang kurang perhatian penuh, betapa pun pandainya, mungkin melakukan kekeliruan hingga menimbulkan kerugian.

สรุปKesimpulannya: Orang yang menginginkan kemajuan dalam hidup hendaknya melatih perhatian penuh hingga kuat dan selalu sadar diri dalam setiap tugas yang dilakukan, karena perhatian penuh adalah pelindung dan pintu menuju segala kemajuan. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Satimato sadā bhaddaṃ
Orang yang penuh perhatian senantiasa berkembang

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

ข้อ ๕ · ข้อสอบสนามหลวง พ.ศ. ๒๕๖๑ ธรรมศึกษาชั้นตรี ประถม · บทเชื่อม ๑ บท · ประมาณ ๕๕๗ คำ
โจทย์: ผู้ให้ ย่อมเป็นที่รัก. ------------------- แต่งอธิบายให้สมเหตุสมผล อ้างสุภาษิตอื่นมาประกอบด้วย ๑ ข้อ และบอกชื่อคัมภีร์ที่มาแห่งสุภาษิตนั้นด้วย สุภาษิตที่อ้างมานั้น ต้องเรียงเชื่อมความให้สนิทติดต่อสมเรื่องกับกระทู้ตั้ง. ชั้นนี้ กำหนดให้เขียนลงในใบตอบ ตั้งแต่ ๒ หน้า (เว้นบรรทัด) ขึ้นไป ------------------- ให้เวลา ๓ ชั่วโมง
Dadamāno piyo hoti
Pemberi dana disayangi
(Aṅguttara Nikāya, Pañcakanipāta 22/44)

อารัมภบทSekarang akan dijelaskan dan diuraikan makna tema Dhamma yang tertulis di atas, sebagai pedoman untuk belajar dan berlatih.

อธิบายบทตั้งPenjelasannya: Kata "orang yang memberi" dalam kata mutiara ini berarti orang yang memiliki sifat rela berkorban sebagai kebiasaan, siap membagikan apa yang dimilikinya demi manfaat orang lain. Adapun kata "akan dicintai" berarti akan menerima rasa sayang, kasih, dan harapan baik dari orang-orang di sekitarnya. Sabda Sang Buddha ini menunjukkan satu hukum alam, yaitu bahwa cinta dari orang lain tidak dapat dituntut atau dipaksakan, tetapi timbul dengan sendirinya terhadap orang yang memberi.

ขยายความบทตั้งOrang yang memberi dicintai karena setiap manusia menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Siapa pun yang membuat seseorang berbahagia dan membantunya terbebas dari kesulitan, orang itu tentu mencintainya. Sebaliknya, orang yang hanya menerima, tidak pernah memberi, dan terus mengambil keuntungan dari orang lain, meskipun memiliki harta atau kekuasaan sebesar apa pun, mungkin dikelilingi orang hanya karena mereka mengharapkan keuntungan. Ketika keuntungan itu habis, orang-orang itu pun pergi. Karena itu, cinta yang timbul dari memberi dengan tulus lebih kokoh daripada cinta yang dibeli dengan kekuasaan atau keuntungan.

ประโยคสะพาน + ที่มา ๑Kebahagiaan sejati tidak harus diperoleh dari memiliki berbagai hal, tetapi timbul dari tidak berbuat jahat. Orang yang menjauhi kejahatan dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran akan tenang hatinya dan tidak perlu takut akan apa pun. Hal ini sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Khuddaka Nikāya, Dhammapada:

อธิบายบทเชื่อม ๑Penjelasannya: Kata mutiara ini mengajarkan bahwa tidak berbuat jahat membawa kebahagiaan. Kata "tidak berbuat jahat" berarti menghindari segala kejahatan, baik melalui jasmani, ucapan, maupun pikiran. Adapun "kebahagiaan" di sini berarti tubuh yang nyaman dan pikiran yang tenteram, perasaan lega, tanpa ada sesuatu pun yang perlu ditakuti atau dicemaskan. Sabda Sang Buddha ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak harus diperoleh dari memiliki berbagai hal, tetapi dapat timbul dari tidak melakukan hal-hal yang tidak baik.

อธิบายบทเชื่อม ๑Kebahagiaan yang timbul dari tidak berbuat jahat adalah kebahagiaan yang mendalam dan kokoh. Orang yang tidak berbuat jahat tentu dapat tidur nyenyak, tidak perlu takut kesalahannya akan terungkap, tidak perlu terus curiga terhadap orang lain, dan tidak perlu berbohong untuk menutupi kesalahan, sehingga pikirannya ringan dan nyaman. Sebaliknya, orang yang berbuat jahat, meskipun memperoleh apa yang diinginkannya, pikirannya justru gelisah oleh rasa takut, rasa malu, dan penyesalan. Dalam Dhammapada, sabda Sang Buddha ini muncul bersama dengan pernyataan bahwa sila membawa kebahagiaan hingga usia tua, keyakinan yang teguh membawa kebahagiaan, dan memperoleh kebijaksanaan membawa kebahagiaan, yang menunjukkan bahwa tidak berbuat jahat adalah dasar dari segala kebahagiaan.

ตัวอย่างในชีวิตSebagai contoh, orang tua yang memberikan cinta, perhatian, dan didikan kepada anaknya sepanjang hidup tentu dicintai oleh anaknya lebih daripada siapa pun. Kakak yang membagikan mainan atau makanan ringan kepada adiknya dan selalu melindungi adiknya ketika ada bahaya tentu dicintai oleh adiknya. Pegawai yang murah senyum dan melayani dengan tulus tentu disukai oleh pelanggan. Bahkan hanya dengan memberikan senyuman dan ucapan yang lembut, kita dapat dicintai oleh orang lain tanpa perlu mengeluarkan harta sedikit pun.

สรุปKesimpulannya: Orang yang ingin dicintai hendaknya selalu bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang telah kita berikan kepada orang lain hari ini, lalu rajin memberi sesuai dengan kesempatan dan kemampuannya. Memberi seperti ini merupakan jasa kebajikan sekaligus daya tarik sejati seorang manusia. Hal ini sesuai dengan ungkapan Dhamma yang diangkat sebagai tema di awal:

Dadamāno piyo hoti
Pemberi dana disayangi

ปิดท้ายDemikianlah uraiannya sebagaimana telah dipaparkan di atas.