Orang berkebijaksanaan baik, yang waspada ketika orang lain lengah, terjaga ketika orang lain tidur, meninggalkan (si bodoh) di belakang, seperti kuda yang cepat meninggalkan kuda yang lemah.
Kemasyhuran bertumbuh bagi orang yang rajin, penuh perhatian, bersih dalam perbuatan, bertindak dengan pertimbangan, terkendali, hidup sesuai Dhamma, dan waspada.
Bergembiralah dalam kewaspadaan dan jagalah pikiranmu dengan baik; bebaskanlah dari cara-cara yang salah, seperti seekor gajah melepaskan dirinya yang terbenam dalam lumpur.
Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri, hendaklah orang bijaksana membuat pulau bagi dirinya sendiri yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.
Sukar mengendalikan pikiran yang binal dan senang mengembara sesuka hatinya. Adalah baik untuk mengendalikan pikiran, suatu pengendalian pikiran yang baik akan membawa kebahagiaan.
Kebijaksanaan adalah sarana menilai apa yang telah didengar; kebijaksanaan menambah kehormatan dan nama baik; orang yang berbekal kebijaksanaan di dunia ini menemukan kebahagiaan bahkan dalam penderitaan.
Jika dengan melepaskan kebahagiaan kecil seseorang dapat melihat kebahagiaan yang besar, hendaknya orang bijak, yang melihat kebahagiaan besar itu, melepaskan kebahagiaan yang kecil.
Sekalipun orang yang berkebijaksanaan rendah dan berpikiran goyah hidup seratus tahun, lebih baik satu hari saja dalam kehidupan orang yang bijak dan bermeditasi.
Mereka yang menganggap yang tidak hakiki sebagai hakiki dan melihat yang hakiki sebagai tidak hakiki, berkelana dalam padang niat yang salah, tidak sampai pada yang hakiki.